Kemarin adalah hari pertama saya kembali bekerja setelah libur Natal dan Tahun Baru setelah dua minggu. Entah kenapa, liburan yang hanya dua minggu ini terasa sangaaat panjang. Tadinya kami sekeluarga berencana untuk merayakan Natal di Hamburg, kota tempat Pak Suami studi belasan tahun yang lalu. Tapi kepergian adik ipar saya di awal liburan membuat semua rencana ditangguhkan, Pak Suami pun terbang ke Indonesia untuk mendukung keluarga adik yang kehilangan.
Hari-hari pertama liburan saya habiskan literally di tempat tidur. Selain rasa lelah dengan padatnya aktivitas menjelang Natal, kepergian adik ipar juga membuat saya sangat emosional. Alhasil bisa dibilang selama dua minggu itu saya simply hanya beristirahat saja. Tapi tetap saja, ketika sudah waktunya untuk kembali kerja, saya merasa tidak punya tenaga.
Salju tebal
Table of Contents
Rasa lelah, malas, dan salju yang tebal membuat saya benar-benar tidak ingin pergi kerja. Bagaimana tidak, salju tebalnya lebih dari 15 cm, jalan saja susah, menyetir juga susah. Hari Minggu yang lalu Pak Suami pilek dan tidak pergi ke gereja. Karena saya punya jadual mengajar Sekolah Minggu saya pun terpaksa pergi bersama anak-anak. Untung juga saya memaksakan menyetir hari Minggu, jadi sempat latihan untuk menyetir menembus salju yang tebal.

Kemarin, setelah dua minggu lebih selalu bangun jam 10 lebih, saya berhasil bangun jam 6 pagi. Cuaca sangat dingin, dan saya lihat salju sudah lebih tebal dari kemarinnya. Waktu saya keluar rumah jam 7.15, hujan salju sangat lebat, angin kencang, dan langit pun masih gelap. Duh, mau nangis rasanya harus menyetir dalam cuaca sedemikian! Baru saja belokan ke 4 dari rumah, roda mobil saya sudah tergelincir karena licinnya salju. Saya cuma bisa menyetir paling cepat 20 km/jam, dengan jalan grudukan dan licin, dan pandangan yang terbatas karena gelapnya malam dan salju yang lebat.
Rasanya mau nangissss, sepanjang jalan saya berpikir, no one should go to work today! Ingat waktu masih jadi ibu rumah tangga, dalam cuaca seperti ini pasti saya bergulung di tempat tidur, instead of keluar rumah. Tapi ya namanya sudah punya pekerjaan – yang mana harus disyukuri, plus kerjanya di sekolah, bukan di tempat yang bisa dikerjakan dari rumah, ya saya tidak punya pilihan.
Main salju di sekolah
Si Bungsu sudah mengeluh sejak hari Minggu malam, harusnya kita ini sneeuwvrij – libur karena salju terlalu tebal. Well, bener sih dek, saljunya sungguh terlalu tebal untuk keluar-keluar ke jalan. Tapi karena di Belanda biasanya murid-murid tinggal dalam jarak jalan kaki ke sekolah, nggak ada alasan untuk schoolvrij. Yang kesulitan untuk mencapai sekolah itu bukan muridnya, tapi gurunya!
Setelah sejam di jalan (biasanya hanya 20 menit) akhirnya saya sampai di sekolah, disambut oleh Pak Kepala Sekolah. Biasanya sang direktur libur di hari Senin, jadi melihat dia ada di sekolah, rasa lelah, stress selama nyetir dan kesal karena tetap harus datang bekerja jadi berkurang. Minimal bukan saya sajalah yang lelah-lelah berjuang di jalan.
Meskipun segan, tapi saya cukup antusias juga untuk mengajar. Terbayang asyiknya main salju bersama teman-teman sekelas. Salju setebal ini sangat jarang turun, mungkin sudah lebih dari 10 tahun sudah tidak seperti ini. Kalau saljunya tebal, murid-murid saya bisa melakukan banyak hal – membuat boneka salju, snowball fighting, dan lain sebagainya.


Tapi ternyata saljunya turun terus sepanjang pagi, dan kami tidak bisa terlalu lama bermain di luar. Kepala anak-anak penuh dengan salju, mereka mulai cranky karena kedinginan, syal dan sarung tangan juga mulai tidak mampu menahan dingin. Dan begitu kami masuk ke kelas lagi, semua jaket, syal, topi dan sarung tangan basah karena saljunya mencair. 😅
Kode oranye
Sekitar jam 1 siang, Pak Kepala Sekolah pun pamit pulang sambil berpesan bahwa semua orang harus langsung pulang karena jalanan macet berat karena banyaknya mobil yang mengalami kecelakaan. Berita mengumumkan bahwa kemarin jam 2 siang, macet di sekitaran Utrecht mencapai 175 kilometer! Saya pun buru-buru pulang karena masih harus menjemput si Bungsu dari sekolah, tidak ingin terjebak macet, dan takut kena tabrak mobil lain yang terpeleset.
Sorenya Pak Kepala Sekolah pun mengumumkan, bahwa sesuai himbauan pemerintah untuk tidak keluar rumah dalam cuaca sedemikian karena besarnya resiko kecelakaan, maka sekolah kami pun tutup hari ini dan besok. Untuk hari-hari berikutnya, sekolah akan terus memantau keadaan untuk memutuskan apakah kita bisa buka lagi atau tidak. Berhubung saya bekerja hanya dari hari Senin sampai hari Rabu, tidak menjadi masalah apakah hari Kamis dan Jumat sekolah buka atau tidak. Libur Natal simply diperpanjang! Yippie!🙌

Baru kali ini juga sih sampai tidak bisa bekerja karena masalah cuaca. Ya memang kehidupan ibu rumah tangga dan ibu pekerja itu lain ya, biasanya ya acara menyesuaikan kondisi kita, lagi mood, lagi sehat, dan lain sebagainya. Tapi sekarang, saya yang harus ikut dengan aturan kantor. Yaaa.. ikuti ajalah. Sambil terus berdoa supaya Tuhan beri kesehatan dan menjaga di dalam setiap keadaan. Amin.

