Selamat Jalan, Tante

Hari ini adalah hari ke empat salju turun. Salju sudah mencapai kira-kira 20 cm – kalau tidak diinjak sama sekali selama empat hari ini. Kemarin dan hari ini banyak sekolah diliburkan karena jalanan terlalu licin. Si Sulung yang yang sudah duduk di SMP tidak libur, tapi dapat pelajaran online.

Bagian dari PR yang dia dapat adalah membuat boneka salju dan berfoto bersama boneka saljunya. Saya minta si Sulung untuk membuat boneka salju di depan rumah supaya bisa dinikmati banyak orang, daripada hanya di halaman belakang. Lagipula salju di depan rumah tidak terbatas banyaknya, dibanding salju yang hanya ada di dalam pagar rumah kami.

Saya pun ikut membantu si Sulung membuat boneka salju, dan selama beberapa jam di luar, saya melihat beberapa manula masuk ke rumah tetangga kami. Wah, lagi banyak tamu, saya pikir. Kembali di rumah, saya bilang ke Pak Suami, “Si Tante either lagi ramah, atau lagi sakit ya. Dia lagi nerima banyak tamu, tumben banget.”

Tante yang sendirian

Table of Contents

Kami pindah ke rumah yang kami tinggali sekarang hampir 14 tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang hamil besar si Sulung, dan Pak Suami melamar kerja di kota di mana kami tinggal sekarang ini. Enak tinggal di tengah, ujarnya, daripada tinggal di ujung Belanda, jauh dari Amsterdam dan keramaian.

Sebagai orang yang kurang tahu aturan dan terutama karena tidak bisa bahasa Belanda, kami tidak ngebel rumah sebelah untuk mengenalkan diri. Katanya biasanya kita bawa kue untuk diberi ke tetangga sambil berkenalan, tapi saya selalu takut ditolak. Plus memang sudah hampir melahirkan jadi fokus kami lebih ke membenahi rumah baru dan mempersiapkan bayi. Perkenalan sama tetangga lebih ke arah kiri dibanding ke tetangga yang di sebelah kanan. Itupun hanya senyum-senyum, tapi tidak pernah benar-benar ngobrol.

Waktu si Sulung lahir, kami mendapat kartu dari tetangga kanan kiri. Dan waktu itu tetangga kanan dan kiri membantu kami mencabuti tanaman liar di depan rumah. Again, waktu itu saya belum pernah punya taman, jadi nggak tahu juga harusnya bagaimana. Plus punya bayi kecil dan harus ngurus semua sendirian, urusan bertetangga pun jadi terbengkalai.

Dari tetangga di kiri, saya diberitahu kalau tetangga di kanan tinggal sendirian. Dia adalah seorang ibu yang sudah bercerai dari suaminya. Profesinya perawat dan karena dia hidup sendirian, dia mengambil banyak shift malam supaya gajinya lebih besar daripada gaji normal. Anaknya ada dua dan tidak ada yang mau berkomunikasi dengan beliau.

Kami menamakan tetangga di kanan kami ‘Tante’, karena beliau lebih tua daripada kami.

Bukan tetangga idaman

Waktu si Sulung dan si Bungsu bayi dan batita sampai balita dan sampai besar, kami bukanlah tetangga idaman buat sekitar kami. Si Sulung kalau nangis menggelegar, si Bungsu sama aja. Waktu mereka bisa berjalan, berlari dan naik tangga, suara langkah mereka terdengar kemana-mana. Belum lagi ketawa, tangis, teriak, dan lain sebagainya.

Tetangga kiri kami akhirnya pindah dan diganti dengan pasangan muda yang juga punya anak seusia si Bungsu. Posisi kami terjepit. Dari tetangga yang kiri, kami diharapkan untuk tidak ribut di atas jam 7 malam, karena anak Belanda jam 6 sore sudah tidur. Hari Sabtu kami tidak boleh ribut sebelum jam 9 pagi karena mereka masih mau tidur. Tapi dari POV Tante, kami diharapkan tidak membuat suara di siang hari karena itulah jam dia istirahat setelah dinas malam.

Wahai tersiksanya jadi emaknya Si Sulung dan di Bungsu yang tidak bisa dipendam volumenya. Sebenarnya sih suara mereka tidak terlalu luar biasa. Saya sudah beberapa kali berkonsultasi pada komunitas di Facebook, soal apa sih peraturan tinggal di Belanda. Setiap kali mereka bilang kalau suara anak-anak ya tidak bisa dilarang. Tapi tetap saja, sebagai orang yang nggak enakan, saya 24 jam senewen kalau-kalau mendapat protes dari tetangga kiri kanan ini.

Efeknya adalah si Tante terlihat tidak suka kepada kami. Dia melengos kalau kami sapa, atau bahkan langsung marah-marah. Kadang dia ketuk-ketuk pintu rumah untuk menyuruh kami diam.

Tidak bahagia

Jujur saya tidak bahagia jadi tetangganya Tante. Saya tahu saya bukan tetangga idaman, tapi rumah kami tidak seribut itu sampai dia harus semarah itu. Satu lagi yang dia kesalkan dari kami adalah kalau musim semi dan musim panas, akan ada tumbuhan liar bermunculan. Tante ini rumahnya apik sekali dan dia suka bertanam. Jadi dia senewen sekali kalau lihat tumbuhan-tumbuhan liar ini.

Pernah saya pulang dari antar anak-anak sekolah, dia sedang mencabut tanaman liar di depan rumahnya. Saya menyapa bilang selamat pagi. Dia langsung merocos marah dan bilang kalau gara-gara saya tidak mencabut tanaman liar di taman, semuanya menjalar ke rumah dia, dan dia jadi nggak bisa menikmati hidupnya lagi.

Saya kaget sekali dengan reaksi dia. Dia bilang kalau tanaman liar di rumah saya bijinya berterbangan ke rumahnya, padahal di kanan rumah dia juga tamannya penuh dengan tanaman liar. Tetangga kiri saya dan kirinya lagi juga. Cuma rumah dia saja yang steril, daaaaaaaaaaaaaaan di belakang rumah kami ada hutan! Ya pantas saja lah semua bibit itu berterbangan.

Belum lagi waktu dia marah-marah itu saya sedang menjalani tindakan medis. Hidup waktu itu cuma masalah bertahan hidup. Bisa tetap hidup dan mengurus anak-anak itu sudah luar biasa. Urusan taman? Itu prioritas terakhir dalam hidup saya! Tentu saja taman kami tidak bisa dibandingkan dengan taman beliau. Dia hidup sendirian dan tidak ada yang harus diurus, sementara kami masih berjuang untuk hal-hal yang lebih penting daripada urusan taman. Dan taman kami meskipun kami tidak selalu langsung mencabut tumbuhan liar secepat beliau,  taman kami tidak kotor, penuh sampah, dan lain sebagainya. Menurut standard dia memang bukan taman ideal, tapi sama sekali tidak terbengkalai.

Sejak itu, mau encok sekalipun, saya selalu mencabut tanaman liar terutama yang mengarah ke rumah Tante. Dan semua usaha untuk menyapa semakin nihil hasilnya. Kartu Natal yang saya selipkan, usaha untuk mengajak ngobrol, semua tidak berbalas. Akhirnya saya belajar untuk menerima kalau memang si Tante ini punya masalah pribadi yang tidak bisa saya bantu selesaikan.

Meskipun dari waktu ke waktu saya selalu punya kekuatiran kalau si Tante ini sakit sendirian bagaimana, nggak ada yang melihat. Tidak jarang saya pingin berbagi masakan dan beberapa kali saya mengetok rumahnya tapi tidak dibukakan pintu. Saya selalu ingin bilang sama beliau untuk ayo kontak kami kalau ada apa-apa, tapi ya tidak bisa kesampaian.

Mobil jenazah

Tidak lama setelah saya ngomong gitu sama Pak Suami, saya melihat ke luar jendela dan melihat ada mobil berhenti di depan rumah kami. Karena salju tebal, mobil yang berhenti di jalan (bukan di tempat parkir) sangat nggak handy karena jalanan tidak selebar biasanya. Jadi mobil yang berhenti begitu saja menarik perhatian saya.

Saya berjalan ke jendela untuk mengecek mobil siapa yang parkir di jalan, kok mobilnya panjang banget, lalu saya lihat ada bendera hitam di bagian depan mobilnya. Kontan saya berlari dengan panik ke atas memberitahu Pak Suami, “Sayang, kayaknya Tante meninggal! Ada mobil jenazah di depan rumah!”

Kami berdua pun mulai mengintip ke bawah dari kamar si Bungsu yang ada di bagian depan rumah. Di situ kami lihat ada dua petugas menurunkan brancard dan mendorong ke depan pintu rumah Tante. Duh, hati saya langsung mengkerut. Dugaan saya kalau Tante sakit itu ternyata benar, dan bukan hanya sakit, dia positif meninggal, kalau tidak harusnya ambulans yang datang dan bukan mobil dari rumah duka.

Melihat dua petugas itu kesulitan mendorong brancard yang masih kosong ke arah pintu karena tebalnya salju di trotoar, saya pun turun ke bawah dan mengambil sekop untuk membersihkan jalan. Di situ sudah ada seorang perempuan (kayaknya itu tetangga dari sisi yang lain) yang sudah sibuk membersihkan salju.

Secara singkat saya bertanya, apakah Tante meninggal? Dan apakah ada orang sewaktu dia berpulang? Sang perempuan berkata iya, mevrouw is overleden, dan waktu dia meninggal ada orang dan semua berjalan baik. Saya tidak bertanya lebih lanjut karena rasanya tidak sopan. Si ibu itu mengucapkan terimakasih untuk bantuan saya dan pergi.

Saya tetap tinggal di luar rumah sampai petugas keluar lagi membawa Tante dan memasukkan beliau ke mobil. Rasanya kok sedih sekali tidak ada keluarga yang melepas, tidak ada tetangga yang melepas. Sebagai bentuk respek yang terakhir yang saya bisa berikan, saya tetap berdiri di situ sampai mobilnya pergi. Ada tiga orang perempuan tua yang ada di rumah Tante – mungkin rekan-rekan perawat, dan mereka tidak ikut ke rumah duka atau kemanapun Tante dibawa. Mereka nggak ngomong apa-apa dan saya pun nggak enak mau nanya apapun, dan kami pun masuk rumah masing-masing.

Kehidupan bermasyarakat yang sepi

Meskipun saya menyesali hubungan kami yang tidak pernah bisa baik, dan niat saya yang tidak pernah tercapai untuk bisa menjadi support system buat Tante yang tinggal sendirian, saya bersyukur kalau beliau bisa berpulang waktu ada orang di rumahnya. Meskipun langkah terakhirnya terasa begitu sunyi, tidak ada yang mengantar, nggak tahu apakah ada acara atau akan langsung dimakamkan atau dikremasi, tidak ada kelihatan keluarga yang menangisi, dan tampaknya tidak ada tetangga yang tahu, tapi saya bersyukur Tante pulang dan diurus secara terhormat. Yang selalu saya takuti adalah kalau beliau sakit dan meninggal sendirian, lalu baru ketahuan berbulan-bulan berikutnya seperti yang cukup banyak terjadi pada orangtua yang tinggal sendirian di Belanda ini.

Hidup yang sangat individualistis, hubungan yang non-existence antara tetangga, membuat kehidupan – dan juga kematian – harus dijalani sendirian. Ada dua tetangga kami yang kami tidak tahu kapan berpulangnnya. Oma dua rumah di sebelah kiri kami yang sepertinya meninggal waktu saya sedang sering ke rumah sakit, dan Oom di seberang rumah yang biasanya parkir di depan rumah kami dan lama-lama kok nggak kelihatan lagi.

Selain menyadari bahwa hidup ini singkat dan bisa berlalu begitu saja, saya juga menyadari kalau just like that, saya pun bisa dibawa pergi, tanpa ada tetangga yang ngeh. Tanpa ada tanda, ada rasa, ada perubahan yang membuat orang sadar.

Dalam tiga minggu ini ada dua orang yang saya kenal meninggal. Dan hidup tetap berjalan. Saya sedih dan merinding menyadari hidup ini sebenarnya sangat fragile. Tapi juga belajar bahwa kematian itu sesuatu yang normal, yang harus dialami semua orang, dan akan terjadi pada kita semua.

Pertanyaannya, apakah semasa kita hidup, kita punya relasi yang baik dengan orang-orang terdekat? Apakah ada kebaikan kita yang bergema dalam hidup mereka, bahkan ketika kita sudah pergi? Apakah ada legacy yang ditinggalkan?

Selamat jalan Tante. I’m sorry I didn’t get to know you better. But I’m glad you didn’t suffer for so long and could go in a respectful way.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *