Hari ini hari ulangtahun pernikahan kami yang ke-limabelas. Tidak terasa sudah satu setengah dekade saya menikah dengan Pak Suami, sebuah hubungan terlama yang pernah saya jalani bersama seseorang yang bukan seibu sebapak.
Waktu Mama Papa saya ulangtahun pernikahan yang ke-15, mestinya saya berusia sekitar 10 tahunan. Saya tidak ingat persisnya bagaimana, tapi ulangtahun pernikahan Mama dan Papa selalu meninggalkan kesan yang mendalam untuk saya pribadi. Biasanya kami tidak mengadakan acara khusus, tapi ada ulangtahun tertentu di mana mereka bernyanyi lagu Batak ‘Na Sonang Do Hita Nadua’. Kisah cinta mereka yang penuh perjuangan dan (terlihat) romantis, plus angka genap seperti 15, 25, 30, dan seterusnya, membuat saya berpikir wah, bisa nggak ya nanti saya seperti itu dengan suami?
Hidup ini realita
Table of Contents
Dalam kenyataannya, hidup dan hubungan suami istri tidak (selalu) bisa terasa romantis. Terutama ketika sedang banyak masalah. Seperti halnya Mama dan Papa, Pak Suami dan saya juga memulai hubungan dengan kisah yang romantis. Cinta pertama di lapangan basket kampus Ganesha yang sempat terputus 13 tahun lamanya, bertemu kembali dan ternyata masih cinta.
Itu kan versi novelnya ya. Kisah romantis ala Cinderella yang selesai dengan kalimat “And they live happily ever after…”. Dalam kenyataan ya yang namanya happily ever after itu nggak datang gitu aja. Ada piring kotor yang muncul minimal tiga kali sehari – dan harus dikerjakan, ada cucian tiap dua hari – harus dikerjakan, ada tagihan yang harus dibayar tiap bulan – dan harus dicari uangnya, ada barang yang rusak – yang harus diperbaiki, dan lain sebagainya.
Dan namanya dua pribadi, meskipun katanya sudah menjadi satu entity, tapi saja ada dua hati, dua perasaan, dua pemikiran, dua ide, dua gagasan, dua ngototan, yang nggak selalu bisa sejalan.
Anak dewasa, orangtua manula
Salah satu realita yang harus kami hadapi di dalam usia pernikahan yang ke-15 ini adalah perpindahan fase dari orangtua muda dengan anak balita menjadi orangtua menengah dengan anak remaja. Bedanya dua fase ini adalah sebagai orangtua dan pasangan muda, tantangan yang kami hadapi adalah bagaimana menemukan pola rumah tangga kami sendiri – menggabungkan dua pribadi dengan latar belakang yang berbeda, menjembatani perbedaan, plus ngurusin anak-anak yang masih kecil.
Sekarang, sebagai orangtua versi menengah, anak-anak yang tadinya masih sangat dependent sudah lebih mandiri. Tantangannya berubah dari ketergantungan mereka secara fisik dan emosional, menjadi kebutuhan finansial yang lebih besar, dan bagaimana kami tetap bisa menjaga hubungan dan nilai sementara mereka beranjak remaja dan mengalami banyak perubahan.
Selain itu, sebagai anak-anak yang sudah (sangat) dewasa, kami pun mempunyai tanggungjawab untuk membersamai orangtua kami yang sudah menyandang status Manula. Waktu anak-anak kami masih kecil, bisa dibilang kondisi orangtua bukan merupakan prioritas atas. Mereka masih bisa mengatasi masalah mereka masing-masing. Tapi di saat mereka sudah semakin lemah seperti ini, masalah mereka somehow menjadi masalah kami juga. Dan sebagai seorang perantau, dinamika mengurus orangtua jarak jauh ini bukan tanpa tantangan. Rasa tidak berdaya sampai rasa bersalah yang terkadang sangat terasa bahkan sampai mencekam, merupakan beban tersendiri untuk saya pribadi, dan kemudian memberikan pengaruh kepada hubungan kami sebagai pasangan.
Plus kami berdua pun sudah masuk usia jelita, kondisi kesehatan yang tadinya selalu taken for granted pun sudah berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Ini juga faktor yang sangat mempengaruhi dinamika pernikahan.
Badai pasti berlalu, atau masih ada kereta yang akan lewat, Arini
Tapi tentu saja, seperti layaknya semua krisis yang kami sudah lewati bersama-sama selama limabelas tahun ini, 7 operasi, gantian bolak-balik meninggalkan pasangan untuk bisa mengurus orangtua yang sakit di Indonesia, LDR karena Pak Suami bekerja di luar Belanda, Emak yang sekolah lagi, anak-anak dengan kebutuhannya masing-masing – dengan rahmat dan kasih Tuhan kami sudah melalui semua itu, dan dengan rahmat dan kasih Tuhan yang sama kami pasti bisa melewati tahap ini.
Terkadang ada perasaan kalau ‘kereta’nya sudah lewat. Ada hal-hal yang terlanjur hilang dan tidak bisa diraih lagi. Tapi seperti kata Mira W. atau Marga T., badai pasti berlalu, dan masih ada kereta yang akan lewat lagi. Mungkin bukan kereta yang sama, mungkin kota tujuannya berbeda dengan ide yang semula, tapi selama umur masih dikandung badan, kita masih punya kesempatan.
Hari ini Emak masak bihun goreng. Tadinya mau masak pasta, andalan kalau buru-buru dan tidak ada makanan. Tapi ternyata persediaan pasta lagi kosong, adanya 3 bungkus bihun. Akhirnya bacon yang sudah digoreng untuk masak pasta diberdayakan untuk membuat bihun goreng. Kebetulan masih ada sayur-sayur sisa buat hotpot minggu lalu.
Saya menjelaskan kepada anak-anak kalau orang Cina itu biasanya makan mie goreng kalau lagi ulangtahun karena mie itu panjang, jadi hidup kita juga diharapkan jadi panjang. Jadi Mama masak bihun goreng karena hari ini huwelijksverjaardag alias anniversary, biar Papa dan Mama panjang umur pernikahannya. Hari ini 15, sampai 3 atau 4 kali 15. Amin.

