Welcome 2026!

Terimakasih Tuhan untuk tahun baru yang Engkau berikan, besar kasih setia-Mu kepada kami sepanjang tahun 2025, Amin.

1 Januari 2026. Another year passed, a new year has come. Nggak kerasa, sudah 25 tahun berlalu sejak saya menulis ‘2000!’ di agenda. Tahun 2000-an yang rasanya heboh banget untuk anak-anak kelahiran 1900-an, ternyata sudah berjalan seperempat abad.

Ada banyak sekali hal yang terjadi dalam tahun 2025, yang membuat tertawa, tetapi lebih banyak yang membuat saya menangis. Semua yang rasanya tidak sanggup saya tulis di blog, karena terlalu intens, terlalu pelik, tapi toh, ternyata ada juga rasa penyesalan kenapa nggak rajin nulis. Akhirnya setahun berlalu tanpa ada catatan apa-apa. Tahun ini, bersama tiga orang teman saya memutuskan untuk kembali menulis. Menulis supaya pikiran lebih teratur, supaya buah pemikiran nggak hilang sia-sia, dan supaya memori tidak hilang begitu saja.

Sekilas kilasan 2025

Table of Contents

Bulan Juli 2025 saya berhasil lulus kuliah.  Setelah hampir dua tahun mencari balance di antara pekerjaan, studi, dan mengurus keluarga akhirnya saya berhasil secara resmi menyandang profesi ‘onderwijsassistent’ alias asisten guru. Sebenarnya saya berencana untuk langsung melanjutkan pendidikan ke PABO alias sekolah guru – seperti IKIP lah kalau di Indonesia. Tetapi untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, akhirnya saya menuruti nasehat Pak Suami dan Pak Direktur (kepala sekolah tempat saya bekerja) untuk menunda rencana ini sampai tahun berikutnya.

Si Sulung juga sudah lulus dari Sekolah Dasar dan mulai di middelbareschool alias SMP/SMA. Puji Tuhan dia lulus dengan nilai baik dan bisa masuk sekolah tujuannya. Yang tadinya dia bersekolah di Utrecht dan harus diantar jemput Papa atau Mama, mulai September 2025 dia bisa naik sepeda ke sekolah karena sekarang SMPnya ada di kota tempat tinggal kami. Yay! 🙌

Acara wisuda terakhir di sekolah dasar terbaik di dunia: Panda School!

Tahun 2025 kami juga mengalami beberapa kali masa tegang karena orangtua bergantian sakit. Tahun kemarin adalah tahun yang penuh dengan rasa sedih, tegang, stress, dan tidak berdaya sebagai anak-anak yang tinggal jauh di perantauan.

Dan akhirnya tahun 2025 ditutup dengan duka. Kami mendadak harus mengucapkan selamat tinggal pada tantenya anak-anak. Persis di awal libur Natal, Pak Suami berangkat ke Indonesia untuk mendukung keluarga adiknya yang sedang berduka. Rencana liburan ditangguhkan, saya dan anak-anak tinggal di rumah, ikut tegang dan banjir air mata.

There’s always be the first time: belum pernah kasih anak-anak makan Indomie sebagai makan malam (makan pagi dan makan siang jelas pernah), tapi saking sedihnya berhari-hari sang Emak mengurung diri di kamar dan nangis dan nggak sanggup masak ribet. Anak-anak ya senang, ya surprise, tapi pas besoknya ditanya, mau makan malam Indomie lagi gak? Nggak Mama, nanti kita sakit! Wkwkwkkw 🤣
Setelah berhari-hari autopilot mode selama Papa di Indonesia, akhirnya Emak mandi dan bawa anak-anak ke bioskop. Nonton film Belanda ‘Juf Braaksel en de mysterieuze verdwijning’ – film Belanda diangkat dari buku cerita. Tadinya Mamanya mau nunggu di luar aja tapi karena ingat sekarang sudah menyandang titel ‘juf’, jadi ya ikut nonton.😅

Acara tutup tahun

Tanggal 30 Desember Pak Suami kembali ke Belanda. Tahun ini adalah tahun terakhir penduduk Belanda boleh menyalakan petasan dan kembang api. Untuk alasan itu kami sudah mengatur supaya kami bisa tutup tahun bersama-sama. Di tengah rasa sedih, lelah, jetlag-nya Pak Suami dan rasa lelah saya yang selama berhari-hari ikutan hidup di waktu Indonesia supaya bisa berkomunikasi dengan keluarga di masa yang intense ini, puji Tuhan kami boleh berkumpul dan menyambut tahun yang baru sekeluarga.

Si Bungsu berusul kalau kita makan hotpot di rumah. Jadilah tanggal 31 sore-sore kami semua ke toko Asia untuk belanja bahan-bahan dan membeli sedikit kembang api untuk dinyalakan di malam hari. Jam 6 sore saya sibuk di dapur menyiapkan hidangan. Jam 7 malam kami mulai makan – yummy!, lalu anak-anak bermain kembang api sendiri di halaman rumah.

Hotpot ala Emak JO

Sudah beberapa tahun ini mereka boleh ikut bergadang sampai pergantian tahun. Selain untuk melihat dan memasang kembang api/petasan, kami juga bersama melalukan perenungan tutup tahun – apa saja yang sudah kami alami dan pelajari, apa yang ingin kami capai di tahun berikutnya. Setelah itu kami berdoa bersama, lalu Pak Suami dan anak-anak keliling kompek perumahan untuk melihat-lihat orang-orang yang sudah sibuk dengan petasannya.

Gantian berbagi hasil renungan tahun yang hampir berlalu
Meskipun cuma kecil-kecilan, tapi tetaplah ikut dalam tradisi kembang api. Tahun 2026 sudah resmi dilarang!

Tahun 2025 ditutup dengan menonton countdown 2025 di televisi. Tahun 2026 dibuka dengan main (baca: nonton) kembang api di luar rumah. Udah deh, segitu dulu cerita dan posting pertama tahun ini. Semoga besok lebih jelas menulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *