Mulai tahun 2026 ini pemerintah Belanda menerapkan peraturan untuk melarang para penduduknya menyalakan kembang api dan petasan pada malam Tahun Baru. Menurut internet, kebiasaan penduduk Belanda menyalakan kembang api untuk merayakan pergantian tahun dimulai pada tahun 60 dan 70-an, alias setelah negara Belanda bangkit perekonomiannya setelah Perang Dunia ke-2.
Waktu saya pindah ke Belanda pada awal tahun 2011, kami tinggal di kota Maastricht – kota tua dan penuh dengan sejarah sampai ke jaman Romawi. Kami juga tinggal di pusat kota, di mana bangunan-bangunannya berusia ratusan tahun. Tahun Baru pertama saya dilewati di kota ini, dan saya sama sekali nggak ngeh kalau ada yang namanya tradisi kembang api. Mungkin waktu itu kami tinggal di daerah yang nggak boleh nyalain kembang apinya.
Tahun Baru ke-2 Pak Suami dan saya lewati di kota di mana kami tinggal sekarang, sebuah kota satelit di tengah Belanda. Kami tinggal di perumahan ‘biasa’, jauh dari keramaian, jauh dari pusat kota. Rumah-rumahnya juga rumah-rumah yang dibangun di tahun 1970-an. Waktu itu si Sulung sudah lahir, dan saya pun terkaget-kaget dengan hebohnya suara kembang api dan petasan di malam pergantian tahun. Tetangga di depan rumah menyalakan banyaaaaaaaaaaaaaaaaaak banget kembang api, dan kembang apinya ini bukan kembang api bintang-bintang yang dipegang anak-anak lho. Ini kembang api raket yang meluncur 20 meter ke udara dan membuat pola-pola yang indah – kembang api professional yang dipakai untuk merayakan malam Tahun Baru di pusat kota.
Sekali-kalinya saya pernah melihat kembang api semacam ini adalah waktu saya tinggal di Singapura. Tahun itu dua abang dan ipar saya mencoba meyakinkan saya bahwa nonton kembang api di Marina Bay yang diadakan secara sentral oleh pemerintah. Waktu itu saya sudah beberapa tahun tinggal di Singapura dan tidak pernah mau nonton kembang api karena tidak suka suaranya, tidak suka banyak orangnya, dan lain sebagainya. Tapi karena mau menyenangkan hati keluarga yang jarang-jarang ngumpul, saya pun setuju ikut ke sana. Hasilnya? Saya nangis dan minta pulang duluan. Indahnya kembang api nggak bisa mengalahkan rasa stress mendengar dentumannya.
Karena itu ketika ternyata saya terdampar di sebuah negara yang merayakan Tahun Baru dengan menyalakan kembang api secara massal, tidak ada sebersit pun keinginan untuk ikutan. Biasanya saya dan Pak Suami ikut melongok ke luar – jangan lupa, Tahun Baru itu kan pas di winter, lagi dingin-dinginnya. Trus kita ‘ooo, oooo’ sebentar lalu bobok. Begitu terus sampai anak-anak lahir.
Tapi waktu anak-anak mulai besar, Pak Suami mulai ingin membuat tradisi ini menjadi tradisi milik kita juga. Dimulai dengan membeli beberapa kembang api (bukan yang profesional) seharga 30 Euro, lalu kami menghabiskan malam Tahun Baru bersama keluarga teman dan menyalakan kembang api kecil-kecil ini. Semakin anak-anak meranjak remaja, semakin besarlah kembang api yang dibeli.
Emaknya? Emaknya hanya tutup mata dan tutup telinga. Saya belajar untuk menghargai minat Pak Suami yang tidak selalu (sebenarnya hampir selalu tidak selalu) sama dengan saya. Cara dia merajut memori dengan anak-anak melalui hal yang dia anggap baik, meskipun hal itu bukan hal yang saya suka, adalah sesuatu yang berharga untuk dia dan anak-anak.
Memakan korban
Table of Contents
Tapi namanya juga sesuatu yang dibuat dari bahan peledak, ya tradisi menyalakan kembang api ini sering berakhir dengan bencana. Ada yang meninggal, yang hilang matanya, hilang tangannya, dan sebagainya. Dan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan remaja, yang – namanya juga negara yang memberi kebebasan – diberi kebebasan oleh orangtuanya untuk pasang kembang api alias petasan sendiri, tanpa bimbingan orangtua.
Ternyata sejak tahun 1980, karena kembang api dan petasan ini suaranya membuat banyak Oma Opa, bayi dan balita, pasien dan binatang peliharaan kaget dan stress, pemerintah Belanda membuat peraturan untuk membatasi jenis kembang api dan petasan yang boleh dinyalakan. Yang ledakannya terlalu heboh dilarang. Hasilnya? Hasilnya adalah banyaknya penjualan kembang api illegal yang akhirnya malah memakan banyak korban karena kurangnya quality control. Kembang api illegal inilah, yang lebih powerful dan juga harganya lebih murah disbanding yang dijual di toko yang berijin resmi dari pemerintah, yang sering membuat orang celaka.

Karena itu pemerintah Belanda akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk sama sekali melarang penduduknya menyalakan kembang api secara sendiri-sendiri. Kalau mau lihat kembang api, ya datang ke pusat kota, di mana kembang api dan artis-artis lokal akan disajikan untuk menandari pergantian tahun. Peraturan ini berlaku secara efektif mulai tahun 2026 ini, artinya tahun 2025 kemarin adalah tahun terakhir kami boleh main kembang api.
Memakan biaya
Selain memakan korban, kembang api massal ini juga makan biaya. Tahun lalu Belanda mencatat rekor tertinggi: 118 juta Euron (alis 2,3 trilyun Rupiah) habis untuk kembang api! Ini adalah angka yang bombastis mengingat penduduk Belanda Cuma 17 juta (penduduk Jakarta 11 juta, Jabotedabek 40 juta).
Bukan saja biaya kembang apinya, tapi juga biaya kerusakan bangunan, mobil yang terbakar, dan lain sebagainya.
Histeria tahun terakhir
Penetapan peraturan baru ini nampaknya berhasil membuat masyarakat Belanda histeris. Untuk merayakan tahun terakhir mereka boleh menyalakan kembang api, orang-orang membeli kembang api lebih banyak dari biasanya. Tahun 2025 tercatat penjualan kembang api sudah menembus rekor tahun sebelumnya. Dari 118 juta Euro menjadi 129 juta Euro!

Pak Suami juga ikutan membeli kembang api lebih banyak daripada biasanya. Tapi kembang api kami yang menurut saya juga sudah keterlaluan buang-buang uang, ternyata hanyalah setetes air dibandingkan jumlah kembang api yang dinyalakan oleh tetangga-tetangga. Total kembang api roket yang Pak Suami beli itu hanya 3. Itupun roket kecillllll. Sekali pasang hanya 20 puluh detik. Tapi tetangga kami pasang kembang api yang kotaknya 10 kali lebih besar dari kotak kembang api kami selama tiga jam non stop!!!
Hhh, hati saya rasanya berdarah membayangkan buanyaknya uang yang terbakar di udara. Padahal gaji guru saja kecil (eh malah curcol). Mau kuliah lagi bayar beberapa ribu Euro setahun aja susah. Kok tega-teganya ratusan juta Euro dibuang sia-sia.
Tapi ya itulah ya, namanya manusia. kalau nggak diguyur adrenalin hidup serasa hambar-hambar saja. Buat saya pribadi sih saya lega kembang api dilarang di Belanda. Itu tandanya tahun ini pergantian tahun bisa tidur lebih tenang. 😴😴😴😴

