Malam ini si Bungsu pergi ke acara Remaja di gereja sendirian karena abangnya ada pertandingan basket di kota lain. Seperti biasa saya mengantar dan menunggu di sebuah pusat pertokoan terdekat sambil belanja. Saat saya baru masuk mobil mau berangkat menjemput, saya menerima telepon dari nomor yang tidak saya kenal.
“Halo, saya pembimbing Remaja dari gereja, saya mau beritahu kalau putri anda hilang. Kami semua ada di dalam gedung gereja dan dia tidak ada di sini. Apakah putri anda membawa telepon dan ada nomor yang bisa kami hubungi?”
Saya tertegun, hati saya terasa terbang. Kemana si kecil pergi? Hari sudah malam dan gelap, kok bisa dia keluar sendiri dari gereja dan nggak bilang siapa-siapa? Karena saya sudah mulai jalan dan saya ingin bisa konsentrasi menyetir supaya bisa cepat sampai di gereja, saya tidak menelepon si Bungsu. Sambil berpikir keras kira-kira apa yang terjadi sampai dia pergi begitu saja dari gereja.
Telur siput
Table of Contents
Sudah beberapa hari si Bungsu bawaannya nggak enak hati terus. Dua dan tiga hari yang lalu saya sempat marah ke si Bungsu karena cara bicaranya yang ketus dan tidak sopan. Saya bilang, apapun perasaan hatinya, mau kesal, marah, atau galau, tetap sampaikan dengan cara yang sopan kepada orangtua.
Tadi malam, setelah sibuk beraktivitas dan dia tampak biasa-biasa saja, tiba-tiba dia bilang dia nggak bisa jalan ke atas. Sampai capek kami membujuk, mendorong, mengangkat, dia tetap kayak karung beras nggak mau jalan. Katanya capek. Biasanya si Bungsu ini cukup logis orangnya, meskipun kadang-kadang ada outburst emosi, tapi dia bisa diajak kerja sama.
Sepulang dari gereja, untuk mencairkan suasana saya mengajak si Bungsu duduk sebentar di McDonald’s. Di situ saya cerita kalau saya pernah baca ada orang yang tiba-tiba perilakunya berubah total, tau-taunya ada banyak telur siput di otaknya. “Hah? Jadi menurut Mama aku punya telur siput di otakku?” “Ya nggak tahu,” jawab saya, “Makanya Mama butuh kamu cerita.”
Prefrontale cortex
Waktu saya sampai di gereja, saya menjumpai si Bungsu sedang menangis dan diajak bicara oleh seorang pembimbing perempuan. Ada beberapa anak-anak baru di halaman gereja – belakangan saya baru tahu kalau mereka keluar untuk mencari si Bungsu.
Saya menghibur si Bungsu sebentar, lalu kemudian kami pulang. Selama perjalanan saya pelan-pelan berusaha mengorek cerita apa yang sebenarnya terjadi – meskipun saya tahu detailnya tidak terlalu penting, yang perlu saya tahu adalah apa yang membuat si Bungsu mengambil keputusan itu. Tapi saya pun sudah kenal si Bungsu, dia tidak mau langsung cerita tentang hal-hal yang berat sekali untuknya – untungnya hal ini tidak terlalu sering terjadi, dia tidak seemosinal Mamanya.
Di McDonald’s saya pun bercerita tentang perubahan yang terjadi di dalam masa pubertas. Di Belanda, konteks pubertas adalah hal besar. Kadang begitu besarnya sampai seolah jadi ada pembenaran ketika seorang remaja melakukan hal yang bodoh atau berbahaya. Saya menjelaskan kepada si Bungsu kalau dalam masa pubertas ini ada banyak perubahan hormon dan perkembangan otak yang terjadi dengan cepat, dan itu bisa membuat dia bingung dan tidak tahu apa yang harus dia perbuat. “Dan prefrontale cortex – bagian otak yang bertanggungjawab untuk membantu kamu berpikir dengan logis itu baru sempurna kalau kamu berumur 25 tahun.”
Tapi saya menekankan kalau separah-parahnya masa pubertas, mestinya seorang remaja masih lebih bisa berlogika daripada seorang balita. “Jadi apapun kekacauan yang kamu lewati, kamu harus menomersatukan keamanan, baik keamanan dirimu sendiri dan juga orang lain. Dan kamu harus tahu, no matter how much you hate the world or how much the world hates you, you have Papa and Mama to turn to. Lain kali, kalau kamu merasa sendirian dan merasa acaranya sudah tidak menyenangkan, atau apapun juga, telepon Mama, Mama datang jemput.”
Memperani orangtua anak besar
Waktu anak-anak kecil, rasanya tidak sabar menunggu sampai mereka lebih besar dan bisa melakukan lebih banyak hal tanpa bantuan kita. Ternyata setelah mereka lebih mandiri dan mulai lepas dari pandangan kita, ada rasa mencekam ketika kita sadar bahwa kita tidak lagi tahu semuanya tentang mereka.
Si Bungsu jalan sendirian untuk menenangkan pikirannya – meskipun hal ini membuat saya hampir menangis histeris karena ketakutan, tapi di lain pihak saya paham sekali rasanya galau sampai ingin sendirian. Di masa kuliah, tidak jarang saya jalan sendiri di malam hari, bahkan tengah malam, jam 1 atau jam 3 malam, sekitar 5 kilometer pulang pergi hanya untuk menjernihkan pikiran.
Kalau dipikir-pikir, dulu itu saya tidak punya rasa takut sebagai perempuan jalan malam-malam sendirian. Sekarang pun kalau membayangkan masa itu, saya tidak merasa ketakutan. Tapi sebagai seorang ibu, memikirkan anak gadis saya satu-satunya pergi ke tempat gelap sendirian itu sangat mencekam. Sampai mana tadi kamu jalan? “Sampai ke kanal”, jawab si Bungsu.“Sampai di jalan sepanjang kanal atau sampai persis ke depan air?” “Sampai di depan air”, jawabnya. Huhu, hampir sakit jantung Mamanya.
Pada akhirnya saya belajar untuk merangkul peran yang baru ini, peran orangtua yang harus percaya bahwa ketika anaknya jauh darinya, dia akan baik-baik saja. Peran orangtua yang menyertai anak bukan lagi dengan bersamanya secara fisik, tapi menjaga supaya komunikasi tetap lancar terbuka supaya ketika anak yang sudah melangkah keluar bisa selalu merasa aman untuk pulang dan berlindung pada kita.
Pada akhirnya saya belajar untuk menyerahkan semua pada Tuhan. Di tempat tidur sebelum kami tidur, saya mendoakan si Bungsu, berdoa supaya dia tahu kalau Tuhan selalu ada beserta dengannya, juga di masa-masa yang berat. Berdoa supaya Tuhan menjadi raja atas hati dan pikirannya, supaya dia bisa mengambil keputusan yang benar ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Ah, susahnya jadi orangtua…

