Krrkkk, krrrk, krrrrk.

Mila menatap Desi, rekan sekerjanya yang sedang dengan semangat menggaruk kepalanya. Rambut Desi tebal dan panjang. Kadang dia menggelung rambutnya ke atas, kadang dia mengurai rambutnya lepas. Melihat Desi menggaruk kepala, kepala Mila terasa gatal juga. Krrrk, krrrk, krrrk.

Sudah beberapa minggu kepala Mila gatal. Entah kenapa. Seingatnya, gatalnya ini dimulai waktu libur Natal yang lalu. Beberapa hari menjelang Natal suami Mila mendadak harus pulang kampung karena adiknya sakit keras. Saking sedihnya memikirkan kondisi adik tersayang, Mila mengurung diri selama berhari-hari di kamar. Dan sejak itulah kepalanya gatal. Yah, namanya juga lagi berduka, jangankan urusan mandi dan keramas, makanpun tidak selera.

Tapi itukan sudah lebih dua bulan yang lalu. Dan sampai sekarang kepalanya masih gatal. Bahkan sampai ke kuping dan ke leher juga. Soleha, putri bungsu Mila juga mulai sering menggaruk kepalanya. Suatu malam, Mila bertanya pada Leha putrinya, “Dek, jangan-jangan Mama kutuan. Kok gatalnya nggak hilang-hilang ya. Padahal Mama selalu keramas.” Soleha mengalihkan pandangannya dengan sedikit terpaksa dari tablet yang sedang dipegangnya, “Ah, nggak lah Mam. Mana mungkin kamu kutuan.” Sedikit memaksa, Mila meminta Soleha mengecek kepalanya. “Cuma ketombe biasa kok,” ujar Soleha menenangkan.

Dua minggu kemudian dan gatal itu masih ada. Soleha juga terus menggaruk kepalanya. Krrrk, krrrk, krrrk. “Kamu jorok sih, jarang mandi,” ujar Budiman suami Mila kepada putrinya. “Aku mandi kok, Papa jangan sok tahu deh!” jawab Soleha sewot. “Ya, tapi kamu jarang sisiran, lihat tuh rambutmu gimbal semua, kayak orang gila,” balas Budiman.

Mila yang sudah pusing dengan masalahnya sendiripun berteriak, “Udah kek! Berantem melulu kalian berdua!” Tapi kalau dipikir-pikir, Budiman ada benarnya. Rambut Soleha memang kusut di bagian kepala belakangnya. Meskipun Soleha sudah bisa mandi dan keramas sendiri, dia belum terlalu bisa menyisir rambut bagian paling belakang. Biasanya Mila yang membantu Soleha, tapi belakangan ini Mila sibuk sekali. Plus, kepalanya gatal sekali.

“Sini dulu dek, Mama bantu kamu sisiran,” panggil Mila. Soleha pun datang membawa tabletnya dan duduk di karpet, di depan Mila. Pelan-pelan Mila mengurai rambut Soleha yang kusut, sampai… sampai dia melihat titik-titik putih di rambut Soleha. Soleha memang kadang ketombean, bukan karena jorok, tapi memang tipe rambutnya yang cepat berminyak dan membuat kulit luar kepalanya terkelupas. “Dek, ini kayaknya bukan ketombe deh, ini telur kutu. Soalnya ketombe kan kalau disentuh langsung lepas, tapi ini kok lengket.”

Begini penampakan telur kutu dari dekat. Pantesan dia lengket di rambut, ternyata memang telur kutu ini dibuat sengaja ‘memeluk’ rambut. Sumber gambar: Volkskrant.nl

Perasaan jijik, horor langsung menyerang hati Mila. Rasanya seperti ada seribu kutu merayap di lehernya. Budiman yang selalu senang membuat putrinya kesal langsung menyambar, “Cantik-cantik kok kutuan! Makanya Papa kan selalu bilang kamu harus sisiran!” Hampir menangis tapi sambil ketawa Soleha berbisik pada Mila, “Maaf Mama, aku bawa kutu ke rumah.”

Epilog

Table of Contents

Mila mendesah pasrah. Merinding rasanya membayangkan ada puluhan makhluk hidup bersarang di kepalanya. Tapi kutu itu adalah kenyataan hidup di antara anak-anak berusia belia. Gak melulu urusan kebersihan atau kondisi ekonomi. Once kepala kita bersentuhan dengan kepala yang berkutu, kutu-kutu ini akan dengan senang hati berimigrasi ke kepala yang baru.

Soleha sendiri belum pernah kena kutu rambut, tapi sejak Mila mengajar TK sejak dua tahun lalu, dia sadar kalau selalu ada resiko dia tertular kutu dari salah satu muridnya. Apalagi anak-anak TK yang lucu-lucu itu terkadang datang kepadanya dan minta dipeluk.

Di sekolah sendiri, pemeriksaan kutu rambut dilakukan secara berkala. Setiap habis liburan, ada dua orangtua murid yang akan memeriksa rambut anak-anak untuk mengecek apakah mereka tidak sengaja kena kutu selama liburan. Malu-malu, Mila mengirim pesan kepada Desi untuk memberitahu kalau ada dia kutuan. Desi pun menanggapi dengan kalem, untuk kemudian mengirim berita ke seluruh orangtua murid kalau ada yang kutuan di kelas.

Kepada guru Soleha Mila pun mengirimkan pesan bahwa Soleha punya kutu rambut di kepalanya. Juga sang guru mengirimkan pesan kepada seluruh orangtua murid di kelas Soleha untuk meminta para orangtua mengecek apakah ada kutu di rambut anak-anak mereka. Ternyata setelah dicek, ada satu teman dekat Soleha yang kutuan, dan ada satu anak dari kelas Mila yang juga punya kutu. Entah siapa yang membawa si kutu duluan, Mila pun tidak tahu.

Untunglah setelah seminggu penuh setiap hari menyisir rambut Soleha dan rambutnya sendiri dengan sisir kutu, keluarga Mila akhirnya bebas dari kutu. Setelah beberapa hari Budiman tidur di sofa demi menghindari istrinya yang cantik tapi kutuan, sekarang mereka pun bisa kembali berpelukan – seperti Teletubbies.

Penutup

Tidak pernah terpikir bahwa setelah 40 tahun lebih, saya pun merasakan kembali rasanya kutuan. Dulu waktu masih duduk di Sekolah Dasar, saya ingat pernah dua kali kutuan. Yang pertama saya masih kecil sekali, dan Mama yang menyisiri rambut saya dengan sisir kutu yang giginya rapat-rapat. Yang kedua saya sudah agak besar, mungkin kelas 5 SD. Waktu itu saya ingat Mama tidak lagi terlalu membantu, saya hanya cuci rambut setiap hari dan kutunya pun hilang.

Malu juga sebenarnya kok sudah dewasa bisa kutuan. Tapi rekan kerja saya bercerita kalau selama 40 tahun menjadi guru, dia pun sempat 3 atau 4 kali tertular kutu dari muridnya. Yah, ternyata, yang dulu terjadi, bisa juga sekarang terjadi lagi ya.

Di Belanda, kutu rambut adalah fenomena umum di sekolah dasar dan menengah. Sampai-sampai ada serial ‘De Luizenmoeders’ (Ibu-ibu pencari kutu) yang sangat populer. Sumber gambar: Volkskrant.nl

Dulu sebagai anak rasanya sih biasa aja kena kutu karena waktu itu ya hampir semua anak pernah kutuan. Tapi sekarang sebagai orang dewasa, rasanya harga diri juga dipertanyakan. Untunglah ternyata guru yang ketularan kutu dari murid adalah hal biasa di dunia pendidikan. Dan Pak Suami yang tersayang pun tetap bisa kalem waktu tahu istrinya kutuan. Konon waktu dia masih kecil dan tinggal di pedalaman Kalimantan, jangan melihat orang kutuan, mungkin dia pun biasa melihat orang ularan, atau biawakan. 😅

Tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret 2026 dengan Tema Aku Dulu vs Aku Sekarang benar-benar membuat para Mamah terpaksa buka-bukaan. Bukankah begitu, Mamah semua?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *