Di dalam umur yang sudah mencapai empat puluh tiga tahun ini (terimakasih Tuhan untuk umur yang terus berlangsung), 22 tahun saya habiskan berjauhan dari orangtua dan keluarga. Untuk saya, perjalanan pertama ke tanah rantau dimulai ketika saya berkuliah di Bandung. Waktu itu sekitar 3 jam naik mobil jauhnya dari rumah. Kalau sekarang sih konon bisa hanya 1 jam saja ya dengan adanya jalan tol yang sudah canggih.

Setelah selesai kuliah, saya sempat bekerja sebentar di Bandung lalu pulang ke rumah orangtua dan tinggal bersama mereka sekitar 3 tahun lamanya. Entah kenapa, saya sudah punya feeling kalau saya akan meninggalkan rumah dan tinggal jauh dari mereka. Tadinya saya pikir karena ya namanya orang sudah lulus kuliah dan bekerja, pasti dong endingnya menikah dan tidak tinggal serumah lagi dengan orangtua.

Tapi ternyata bukan begitu jalan cerita kehidupan saya. Setelah 3 tahun di Jakarta, saya mencari peruntungan untuk bekerja di Singapura. Di sana saya tinggal dan bekerj selama 4 tahun, lalu bertemu dengan pak Suami di udara (lewat internet, red.), dan kemudian menikah dengan beliau dan diboyong ke Belanda.

Orang Belanda yang tidak suka basa-basi

Di Belanda, saya diberitahu oleh banyak orang yang sudah lebih lama tinggal di sini, kalau orang Belanda itu tidak terlalu suka basa-basi. Mereka sangat to the point, dengan lugas menyatakan isi hati mereka. Suka, bilang suka. Tidak suka, bilang tidak suka. Tidak mau, bilang tidak mau. Keinjek kakinya, ya bilang keinjek kakinya!

Salah satu contoh kelugasan orang Belanda yang bisa bikin orang Asia nyengir kuda adalah misalnya soal pemberian kado. Beda dengan di Indonesia, kalau ada orang yang ulang tahun dan dapat kado, katanya (dulu sih gitu, nggak tahu kalau sekarang ya) pantang untuk membuka kadonya di depan yang memberi.

Kalau di Belanda malah kebalikannya. Yang sopan adalah langsung membuka kado di depan pemberinya. Meskipun saya belum pernah melihat langsung ada orang yang bilang: wah saya nggak suka kado yang kamu beri ini, tapi sebenarnya orang Belanda sudah siap dengan reaksi semacam itu.

Buktinya? Buktinya adalah: di sini sah-sah saja untuk memberi kado sekaligus bon-nya kepada orang yang berulang tahun/pesta. Alasannya? Ya kalau ternyata tidak sesuai, orang itu bisa mengganti sendiri di toko dengan kado yang dia mau. 😅

Prinsip orang Belanda adalah: kalau suka bilang suka, kalau tidak mau bilang tidak mau. Jangan biarkan aku menebak di antara keduanya. Bagi mereka keterbukaan itu menghemat sangat banyak energi yang akan terbuang dihabiskan lewat berbasa-basi.

Tapi anehnya, meskipun saya suka terkejut dengan keterusterangan mereka, cara mereka menyampaikan pendapatnya terasa bisa diterima juga. Artinya ya tidak nyolot, tidak sinis, tidak sarkatis, tapi sekedar berterus-terang supaya kedua pihak merasa nyaman.

Ketularan sifat terus-terang

Meskipun lahir sebagai orang Batak yang dikenal sebagai orang yang lugas dan to the point, saya yang dulu sama sekali bukan orang yang mudah menyatakan pendapat saya secara terbuka. Apalagi kalau hal itu bisa bikin orang merasa tidak enak hati. Lebih baik rasanya saya pendam semua sampai tubuh panas dingin, dibanding meng-confront orang secara langsung.

Tapi seperti peribahasa Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung… lama-lama saya pun mulai mengadopsi gaya terus terang khas Belanda ini. Bila anak saya berulang tahun dan saya mengundang teman-teman datang, saya akan berterus terang: “Eh, kita ini cuma makan kue aja ya. Sorry nggak ada makan siang.”

Begitu juga kalau ada yang berulang tahun dan mengundang saya. Setelah menerima undangan, saya pun menelepon pengundang dan bertanya, “Sorry nih mau nanya, kita dapat makan siang nggak di sana?” Hahahha… buat kita orang Timur pertanyaan semacam ini rasanya widih, kalau nggak dianggap sombong gak mau ngasih orang makan, kalau nggak ya dianggap menuntut orang ngasih kita makan!

Tapi buat saya (dan buat orang Belanda), ya itu cuma pertanyaan simple yang tidak punya sayap kanan atau sayap kiri. To the point saja, make it easy for everyone! Ngapain saya makan dulu kalau ternyata memang disediakan makanan, atau ngapain saya masak kalau memang sedang tidak sanggup menjamu besar-besaran?

Tapi saya sendiri merasa lega setelah belajar untuk to the point saja. Sebelumnya saya sibuk menumpuk segala perasaan dalam hati dan berakhir dengan sakit (beneran) dan sakit hati. Sekarang saya belajar, apa yang saya inginkan harus saya utarakan, baru orang lain tahu apa yang saya butuhkan. Apa yang saya rasakan harus saya ungkapkan, baru orang lain tidak salah menduga perasaan saya.

Sekarang ini, kalau Pak Suami misalnya mengeluarkan komentar yang kurang pas, saya akan dengan tenang (sebisa mungkin tenang, inhale, exhale) menyatakan: Aku tidak suka dengan ucapan kamu. Begitu juga ketika ada insiden di pasar atau dengan teman, ya katakan saja dengan terus-terang.

Bukan untuk jadi bahan bertengkar ya. Tapi justru untuk mencari solusi, apa jalan yang terbaik buat dua pihak. Jangan sampai jadi stress sendiri sementara bahkan pihak yang lain tidak sadar kalau ternyata tindakannya sudah membuat kita resah dan gelisah bagai semut merah.

Buat saya pribadi yang harus mengerjakan semua-semua sendiri di tanah rantau ini, hal-hal yang tidak esensial, tidak perlu, tidak berguna, dan terlalu menghabiskan energi harus di-cut. Saya open untuk semua hal yang baik dan perlu, tapi bunga-bunga yang tidak diinginkan, kalau bisa diselesaikan dengan sikap terus-terang ya dieliminasi saja.

Adaptasi sana-sini

Tapi tentu saja, tidak semua orang cocok dengan gaya terus-terang yang belakangan ini saya praktekkan. Apalagi di dalam komunikasi dengan orang Indonesia asli (yang tinggal di Indonesia dan hidup dengan falsafah yang menjunjung tinggi “menjaga perasaan”), biasanya akan ada benturan-benturan karena mereka kaget dengan keterbukaan saya.

Akhirnya ya saya perlu juga beradaptasi lagi supaya tidak terlalu membabi-buta menyinggung perasaan orang lain. Tapi sejalan dengan prinsip saya untuk selalu mengerjakan apa yang baik buat semua orang, saya masih memilih untuk tetap berterus-terang dan terbuka demi kebaikan bersama.

Yah, namanya hidup tidak ada yang selalu konstan ya. Perlu adaptasi sana-sini. Semogalah bisa tetap berkomunikasi dengan baik dengan semua orang. Aminnnnn.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *