“Maaak, Maaak, Bu Lina datang, Maak! Maak Bu Lina Maak!” Jerit Siti anak Maemunah sambil berlari-lari pulang. Ibunya yang sedang menjemur baju di depan rumah seketika terpana ketika mendengar seruan anaknya. Bu Lina? Bu Lina?

Maemunah yang belum lama melahirkan anak kelimanya sejenak perlu berhenti dan memaksa otaknya bekerja. Mommy brain kalau kata majalah Ayah Bunda – lima kali melahirkan plus dua kali keguguran membuat Maemunah agak lambat berpikir. Tapi manalah Maemunah tahu soal mommy-brain, lulus SMP pun dia tidak.

Bu Lina! Setelah lima detik otaknya pun bekerja. Haduh, mau lari kemana nih? Bu Lina keburu datang! Lewat sudut matanya Maemunah melihat Bu Lina tertatih memanjat jalan setapak kampungnya yang menanjak. 

Duh Gusti, gak tega juga melihat ibu tua ini berjalan pelan seperti itu. Maemunah sudah berhari-hari menghindari Bu Lina. Tapi hari ini Dewi Fortuna sepertinya tidak berpihak kepadanya, Bu Lina sudah keburu melihatnya dan memanggil keras: “Munah!!”

Sekilo telur dari warung

Mau tidak mau Maemunah pun menjawab kecut, “Bu Lina, maappp!” Di dalam hatinya dia sudah sibuk mengarang jawaban apa yang akan dikeluarkan kalau Bu Lina menagih uang kontrakannya bulan ini.

Sudah dua bulan Karya, suami Maemunah menganggur. Munah sendiri bekerja sambilan sebagai buruh cuci di tiga keluarga yang tinggal di kompleks perumahan cukup mewah di sekitar kampungnya. Tapi berapalah gajinya?

Meskipun konon pemerintah sudah mengatur UMR supaya tidak rendah-rendah amat, tapi dengan lima orang anak dan suami yang bekerja on-off, uang yang diperoleh Munah sama sekali tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Bu Lina, maap ya Bu,” jawab Munah pelan-pelan. “Kang Karya belum dapat kerja. Uang kontrakan bulan ini saya belum ada. Bulan lalu padahal sudah kurang 100 ya bu,” sambung Munah, lemas.

“Munah, Ibu punya telor sekilo. Nih, baru beli dari warung. Ada tempe sama toge juga. Sana gih masak, ajak si Tata dan Lela juga,” jawab Bu Lina ramah dengan logat campuran Batak-Betawi-Sunda. “Nih ada terigu seperempat kilo. Ibu numpang duduk yah!” Lanjut Bu Lina sambil mencari tempat duduk di ruang tamu rumah Munah.

Perasaan Munah yang sempat letih lesu seketika mencelat dari perut sampai ke lehernya. “Aduh Bu Lina, Alhamdulillah Bu, makasih banyak Bu! Tataaaaa! Lelaaaaaa! Bu Lina belanjaaaa!” Jerit Munah memanggil kedua tetangganya sementara dia lari ke dapur sebentar untuk membuatkan teh buat Bu Lina.

Rumah Petak di pojokan Jakarta 

Bu Lina duduk beristirahat sebentar di ruang tamu rumah Munah sambil memandang sekeliling. Sebenarnya sih kalau ruangan 3 x 3 ini disebut sebagai ruang tamu agak overrated rasanya. Rumah kontrakan ini adalah satu dari beberapa rumah petak yang dimilikinya. Ukurannya tidak besar, hanya 3 x 7 meter dan terdiri dari satu ruang depan, satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi. 

Kalau saja lokasi kontrakan ini ada di Kuningan, judulnya bukan rumah petak lagi, tapi apartemen studio. Tapi kenyataannya kontrakan ini hanyalah rumah bagi orang-orang yang sederhana.

Di ruang depan yang kecil inilah 4 anak Munah tidur berjejalan di malam hari. Di siang hari, ruangan ini berubah menjadi ruang makan, ruang tivi, tempat belajar dan lain sebagainya. Rumah sekecil ini untuk 7 orang… tapi meskipun kecil dan seadanya, terlihat tetap dijaga kebersihannya.

Munah, Tata dan Lela adalah sebagian penghuni kontrakan miliknya. Orang yang mengontrak di sini kebanyakan bekerja serabutan; supir taxi, buruh pabrik, pembantu rumah tangga. Mereka adalah sebagian potret penduduk ibu kota yang jarang terlihat di halaman Instagram. 

Namun meskipun mereka hidup dalam keterbatasan, Munah, Tata dan Lela tetaplah perempuan biasa. Emak-emak yang punya kebutuhan dan juga keinginan. Seperti hari ini, Munah baru saja menerima gaji dari Bu Sosro. Tidak banyak, hanya Rp. 500.000,-. 

Sebenarnya Munah ingin sekali membeli jilbab model Ria Miranda yang sedang ngetrend. Tapi Munah harus membayar uang kontrakan 1,5 bulan. Belum uang belanja yang harus cukup sampai dua minggu ke depan. Jangankan makan daging atau ayam, makan telur setiap hari saja sudah termasuk kemewahan.

Untungnya Bu Lina cukup pengertian. Terkadang pengontraknya boleh mencicil kalau sedang tidak ada uang, atau terkadang menunggak meskipun tidak boleh terlalu banyak. Sudah 11 tahun Munah mengontrak rumah Bu Lina dan selama sebelas tahun ini uang kontrakannya tidak pernah dinaikkan!

Rasa syukur yang sederhana

Munah, Tata dan Lela sudah selesai masak. Bersama Bu Lina mereka makan di rumah Munah. Juga bersama anak-anak mereka yang sudah pulang dari sekolah. Semur telur, tempe goreng, tumis kangkung dan bala-bala. Menu yang sederhana tapi terasa seperti sebuah pesta super istimewa.

Meskipun para emak ini selalu deg-degan kalau Bu Lina datang karena takut ditagih uang sewa, di saat yang sama mereka bersyukur punya induk semang yang baik dan hangat hatinya. Terkadang Bu Lina datang membawa sedikit sembako untuk dibagi di antara para pengontrak yang sedang kesulitan. Apalagi seperti sekarang, di mana harga semua melambung tinggi. Katanya karena perang di Rusia dan Ukraina. Padahal di manalah letak Rusia di dalam dunia Munah. Terlalu jauh bahkan hanya untuk dibayangkan…

Meskipun terkadang Bu Lina mau juga mengomel kalau mereka ketahuan menghabiskan uang gara-gara ikutan arisan panci. Atau terkadang mereka kesal karena Bu Lina suka bertanya kenapa sih mereka nggak ikut KB saja (mahal dan ribet, begitu selalu jawab mereka). Atau Bu Lina mengomel kalau lihat rumahnya tidak dirawat dan dibersihkan.

Pernah mereka bertanya kenapa Bu Lina tidak menaikkan harga kontrakannya. Bu Lina menjawab, “Hidup saya tidak mudah. Saya harus berjalan kaki keliling-keliling kampung untuk mengumpulkan uang kontrakan supaya saya juga bisa bayar listrik dan makan. Supaya ada tambahan untuk uang pensiun suami yang tidak seberapa. Tapi hidup kalian masih jauh lebih susah. Saya tidak bisa kasih kalian tinggal di rumah ini gratis. Tapi inilah cara saya untuk bersyukur kepada Tuhan.”

Munah tahu Bu Lina mengatakan yang sebenarnya. Bu Lina memang orang yang sangat sederhana. Dia tidak pernah mengenakan perhiasan emas berkilau seperti pemilik kontrakan lain yang harga sewa rumahnya berlipat ganda dari rumah mereka. Mobilnya pun hanyalah sebuah Kijang tua.

Dalam hati, Munah belajar dari Bu Lina. Hidup seadanya, jangan bermimpi terlalu muluk, jangan boros, usahakan beli telur buat gizi anak-anak, gak usah punya panci mahal-mahal, jangan suka ribut sama suami, kasih semangat anak-anak sekolah yang baik… begitulah nasehat-nasehat yang sering dikatakan Bu Lina kepadanya. Bagi Munah yang adalah perantau, Bu Lina hampir seperti sosok ibunya. Bedanya, Munah tetap harus setiap bulan membayar sewa.😆

Amazon.nl, Utrecht, Belanda

Aku membolak-balik halaman website Amazon, bergantian dengan bol.com, Aliexpress dan teman-temannya. Tidak ada kebutuhan khusus, hanya tidak tahu mau ngapain dan iseng-iseng berpikir mau beli apa.

Setelah lebih dari satu jam cuci mata dan memasukkan beberapa barang ke keranjang belanja, akhirnya aku menutup jendela browserku dan siap-siap berangkat menjemput anak-anak. Tidak ada yang kubeli. Sempat terpikir membeli laptop baru, Play Station 5, tali jam tangan cadangan untuk smartwatch, atau buku atau playmobil untuk anak-anak. Tapi akhirnya aku memutuskan kalau semua itu hanya keinginan, yang tidak benar-benar kubutuhkan.

Terkadang ingin juga seperti teman-teman yang rasanya ringan sekali berbelanja. Dari foto-foto mereka di Facebook dan Instagram, bisa kulihat kalau mereka baru membeli tas Michael Kors atau bahkan tas merk Chanel yang tak perlu kuintip berapa harganya (saking nggak akan terbeli). Atau ingin juga jalan-jalan ke tempat-tempat eksotis seperti mereka ke Maldives, Santorini atau Raja Ampat.

Tapi aku ingat percakapan dengan Mamaku kemarin. Hati-hati menggunakan uang. Tidak semua perlu dibeli. Kehidupan sekarang semakin susah. Menabung untuk masa depan. Begitu nasehat-nasehatnya.

Dan satu lagi: kebahagiaan dan sukacita tidak tergantung dari apa yang kamu belanjakan. Yang penting bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Bahkan ketika kehidupan kita sederhana. Hanya dengan bersyukur kita bisa sadar betapa kita sudah kaya di dalam Tuhan.

Itu kata Mamaku. Kata Bu Lina. Tentang Mamah dan dunia Belanja. Yang ditulis ulang oleh anak perempuannya di dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog September 2022.

6 Thoughts on “Uang Belanja

  1. Dari awal membaca, aku sudah merasa kenal dengan Bu Lina. Ternyata emang benar seperti yang kuduga. Btw beneran itu 11 tahun nggak naikin uang kontrakan? jangan2 karena ga dinaikkan makanya mereka nambah anak aja terus #eh.

  2. Akhirnya masuk juga itu jilbab Ria Miranda ha3 …
    Nasihatnya makjleb banget ini teh Irene: jangan beli yang gak dibutuhkan. Tapi kadang gitu ya masih sering juga kepeleset hi3 … Aku seneng beliin Teteh Lego dan boneka Teddy House.

  3. Heart warming banget baca kisah yang dituturkan Teh Irene, termasuk masihat mama Lina untuk hemat-hemat uang belanja. Sehat dan berkah ya buat mama Lina… juga anak-anak dan cucunya.

  4. Wah Mamah Dea, saya amazed dengan Bu Lina. Salut dengan kesederhanaan beliau dan pengorbanan beliau untuk tidak menaikkan harga kontrakan, berempati kepada para tenants-nya sampai seoptimal itu. 🙂

    Bu Lina adalah salah satu wanita Indonesia yang patut saya teladani. Jarang sekali ada landlord seperti beliau. 🙂
    Membaca komentar Mamah Risna, Bu Lina adalah Ibunda Mamah Dea ya, wah masya Allah bersyukur sekali memiliki seorang Ibu yang baik, pengasih, dan bersahaja. 🙂 Salam buat beliau, Dea, semoga beliau selalu sehat walafiat dan dalam lindunganNya. 🙂

  5. Iya itu yg bagian KB. Saya prnah bertemu seorang ibu tak mampu yg baru melahirkan anak ke 4 di usianya yg baru 26 tahun. Bayi kami sama2 di rawat 1 ruangan. Sama perawat beliau disuruh KB. Katanya bisa kok pakai Bpjs. Tapi ya itu kalo Bpjs repot kan alurnya. Blm lagi trnyata ibu ini urusan dokumen pribadinya acak kadut bikin bingung pihak Rs. Ibu itu spt kerepotan dgn urusan dokumen pribadi, bpjs dan KB. Padahal mah ya kalau kebobolan deui bukannya lebih repot.. hadeuuu

  6. Bener seperti kata Teh Diah, baca tulisan Teh Dea ini rasanya heart warming sekali. Sarat pesan moral tapi ditulis dengan manis. Thanks for sharing, salam takzim buat Bu Lina.

Leave a Reply to Diah Utami Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *