Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kembali mengusik dengan pertanyaan yang membuat saya harus berpikir keras. Hari apa yang biasa tapi tidak biasa? Maunya sih kayak para filsuf bisa bilang ‘semua hari itu luar biasa’. Tapi dalam kenyataan, kebanyakan hari-hari berlalu begitu cepat tanpa ada sesuatu yang terasa istimewa. Isinya penuh dengan rutinitas, kewajiban-kewajiban dan tidak terasa, satu hari berlalu begitu saja.

Pagi yang berbeda di sebuah kota di Eropa

Table of Contents

Coba bayangkan, kalian pergi ke kantor seperti biasa, duduk di meja dan mulai buka laptop. Biasanya yang pertama dilakukan apa? Mengecek email tentu saja. Apalagi untuk orang-orang yang tidak mau membuka email kantor di rumah, hal pertama yang dilakukan pasti langsung melihat apakah ada email penting yang perlu dibaca. Bayangkan juga kalau kejadian ini terjadi di tahun 2010, waktu itu belum semua orang bisa (dan mau) punya akses email di telepon genggamnya.

Hari itu, di bulan Mei 16 tahun yang lalu, seorang pria lajang yang sudah bertahun-tahun merantau jauh dari rumah pergi ke kantor seperti biasa. Dia memulai harinya dengan membuka Microsoft Outlook, untuk melihat apakah ada email penting dari boss atau kolega. Di antara banyaknya email yang masuk, matanya tertumbuk pada sebuah nama. Sebuah nama yang pernah dia kenal, tigabelas tahun yang lalu, dulu sekali, waktu dia masih kuliah di Bandung.

Tak percaya, pria ini membuka email dan mulai membaca. Ingatannya melayang pada sebuah siang di pinggir lapangan basket di Jalan Ganesha. Pada seorang gadis yang ceria yang dengan berani menyapanya, “Abang temannya kak Asi ya? Kita belum pernah kenalan. Perkenalkan, nama saya Dea.” Pada sebuah malam di mana dia menatap sang gadis lewat teralis pagar, kikuk tak tahu mau mengeluarkan reaksi apa waktu si gadis berucap, “Tolong jangan datang-datang ke sini lagi. You scared me.”

Sang pria berusaha mengingat ekspresi sang gadis waktu dia mengusirnya malam itu. Ya, diusir. Dia lebih suka mengenang kejadian itu sebagai sebuah pengusiran, dibanding penolakan. Apakah waktu itu sang gadis marah waktu ia menjelaskan mengapa sang pria tidak boleh datang lagi? Atau ketakutan? Sedih? Entahlah, yang jelas, sang pria ini membuka email dengan perasaan campur aduk. Cinta pertama pada pandangan pertama yang tidak berakhir bahagia, tiba-tiba muncul lagi setelah 13 tahun tidak pernah berjumpa.

Dua nama, satu yang diingat

Di ujung dunia yang lain, ada seorang gadis yang gelisah. Kemarin siang, akhirnya dirinya sudah memberanikan diri untuk menulis email kepada seorang pria yang sebenarnya sudah sangat lama dia lupakan. Sejak dirinya sakit keras dua bulan lalu, gadis telah lama merenungkan tentang arti hidup dan hubungannya dengan Tuhan. Dia sadar bahwa hidup itu singkat, ada banyak hal yang harus dia perbaiki, dan salah satunya adalah hubungannya dengan Tuhan, dan juga dengan sesamanya.

Dia sadar bahwa dia punya banyak kesalahan di masa lalunya. Ada orang-orang yang hatinya sudah dia sakiti, entah sengaja atau tidak sengaja. Dan dalam rangka memulai lembaran baru, untuk memulai kesempatan kesekian yang dia terima dari Tuhan (sang gadis sudah berkali-kali sakit keras, dan berkali-kali sembuh, so it’s not really a second chance, tapi toh dia sadar bahwa ini adalah momen yang berharga untuk memperbaiki hidupnya), dia memutuskan untuk mencari orang-orang yang pernah dia sakiti dan minta maaf pada mereka.

Dari sekian banyak orang yang pernah dia sakiti, sang gadis hanya ingat dua nama. Keduanya laki-laki, keduanya pernah dia usir. Ya, usir, bukan tolak. Karena keduanya belum sempat menyatakan cinta, baru secara intens mendekati, tapi sang gadis sudah merasa stress duluan karena ketakutan. Sang gadis di masa gadisnya sangatlah realistis. Dia sadar dia bukan gadis-gadis di majalah Gadis yang punya sejuta penggemar. Yang cantik dan membuat pria dia tiap belokan jatuh hati. Dia adalah gadis yang aneh, tomboy dan urakan. Jadi setiap kali ada orang-orang yang somehow mendekatinya padahal mereka nggak punya circle yang sama, si gadis ini langsung ketakutan. Kalau ada orang yang suka sama aku yang aneh, pasti dia lebih aneh – begitu logikanya.

Jadi, dua nama inilah salah dua dari orang-orang yang pernah mendekat tapi langsung dia sikat. Bagaimana aku bisa mendekat, kalau aku baru sampai di pagar dan kamu langsung membanting pintu rumahnya? Begitu isi email salah satu dari dua nama ini. Marah setelah sang gadis memintanya untuk berhenti menelepon dan datang. Kamu perempuan yang sombong, tulis sang pria marah sehari setelah pengusiran.

Sang gadis masih bisa merasakan betapa getir hatinya waktu dia membaca email itu. Kenapa dia begitu marah? Kenapa aku dibilang sombong? Tidakkah dia bisa mengerti bahwa aku benar-benar takut? Bahkan belasan tahun setelah kejadian itu, sang gadis masih bisa merasakan kemarahan si pria itu. Karena itulah dia teringat akan namanya. Ya, pada pria ini dia harus minta maaf.

Tapi dia pun teringat pada seorang pria yang lebih dulu datang. Yang dia usir di pagar rumah kostnya. Sang pria yang darinya dia selalu kabur, bersembunyi di balik pilar batu yang besar-besar di kampusnya kalau mereka kebetulan berpapasan di jalan. Pria yang dia tolak untuk nonton bersama, tapi malah kemudian kesamprok di depan bioskop. Pria yang sudah dia sakiti hatinya, tapi malah mengirimkan kartu di hari ulangtahunnya, sebulan setelah dia mengusirnya. Pria yang mengirim kartu gajah – satu-satunya orang yang ingat kalau gajah adalah binatang kesukaannya.

Dari dua orang ini, cuma satu yang sang gadis ingat nama lengkapnya. Yang satunya cuma Ali. Ali siapa, Ali Baba? Meskipun tahun itu Friendster dan Facebook sudah berhasil menghubungkan orang-orang dari berbagai benua, tetap saja sang gadis perlu lebih banyak informasi selain sebuah nama panggilan. Tapi lebih dari tiga huruf itu, tidak bisa diingatnya lagi.

Cuma sang pria pengirim kartu gajahlah yang nama lengkapnya dia ingat. Karena nama itu tercantum jelas di belang amplop si kartu Gajah. Dan hampir setahun yang lalu, waktu semua orang sibuk meng-add teman-teman dari sekolah atau kampus yang sama, ada seseorang yang bilang kalau si pria ini mengirimkan salam. Waktu itu sang gadis cuma merasa, oh, ok, thanks dan pikiran itu berlalu begitu saja. Tapi kali ini, dia pun tahu kalau dia lewat si teman, dia akan bisa menghubungi si pria Gajah untuk minta maaf. Konon, si pria ini tinggal di Eropa.

Tentang reaching out

Singkat cerita, sang gadis dan sang pria saling bertukar kabar dan enam bulan kemudian mereka menikah dan hidup bahagia. Satu email berjudul Hello 🙂, yang dikirim tanpa pretensi, telah membuat dua manusia yang ternyata jodoh bertemu kembali.

Beberapa tahun yang lalu, di masa karantina virus Corona, saya menerima pesan Whatsapp dari mantan terapis si Sulung. Si Sulung saya, yang waktu kecilnya didiagnosa auitisme, telah menerima terapi selama beberapa tahun sebelum akhirnya dia dinyatakan bisa ‘dilepas’ dari bimbingan khusus. Setelah itu saya tidak pernah berkomunikasi lagi dengan sang terapis, sampai tiba-tiba dia mengirimkan pesan menanyakan kabar.

Dengan semangat saya membalas pesannya, lengkap dengan video si Sulung bermain piano di sebuah konser. Anak yang dikeluarkan dari sekolah reguler dan dipaksa untuk masuk sekolah luar biasa, sekarang sudah bertumbuh dengan baik, bisa menjalin pertemanan dengan anak-anak yang lain, dan bahkan bisa berprestasi. Dan balasan sang terapis membuat saya menangis…

Dia bercerita bahwa dia baru saja melewati sebuah fase yang sangat berat, dan dia bilang kalau sewaktu dia menjalaninya, dia sering teringat pada saya. Jij bent echt een inspiratie en krachtbron voor mijkamu adalah inspirasi dan sumber kekuatan buatku. Baru setelah mengalaminya, baru aku menyadari betapa beratnya hal-hal yang kamu alami waktu itu.

Me? An inspiration? Me, a source of strength? Masa-masa yang berat di tahun-tahun pertama kami berkeluarga, ternyata menjadi inspirasi dan kekuatan yang membuat seseorang bisa menjalani pergumulannya dengan lebih berani? Pesan sang terapis membuat saya menangis, dan saya yakin, balasan saya yang berisi video si Sulung bermain piano pun membuatnya menangis.

Beberapa bulan lalu, seorang kolega di sekolah tempat saya bekerja pun bercerita tentang hal yang serupa: dia mendapatkan email (dengan alamat email kantor) dari mantan murid di tempat dia dulu bekerja. Sang mantan murid ternyata meng-goggle sang guru untuk mengucapkan terimakasih – sang murid yang dicap ‘tak berpengharapan’ oleh guru yang lain karena dia lahir dengan ras tertentu, sekarang sedang berkuliah, jurusan Hukum. Dia menulis betapa pak Guru telah merubah hidupnya waktu dia duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Betapa pak Guru menjadi inspirasi dan sumber semangat untuk sang murid untuk terus maju meskipun lingkungannya tidak mendukung.

Penutup

Kita sering tidak menyadari betapa sebuah email, atau sebuah pesan kecil yang kita kirimkan ke seseorang bisa merubah hari yang biasa menjadi luar biasa – bahkan bisa merubah hidup kita. Pertemuan saya dan Pak Suami adalah bukti the power of reaching out ini. Pesan yang dikirimkan oleh terapis si Sulung juga merupakan bukti betapa perkataan, bisa membuat seseorang sadar bahwa hidupnya berharga, bahwa kesulitan yang dia alami tidak lewat dengan sia-sia, bahkan bisa menjadi inspirasi buat orang lain.

Mungkin Mamah semua punya nama-nama yang sudah menggantung di pikiran untuk dihubungi. Pick up the phone, write that email, tell them what you feel. Reach them out, perhaps it would change their day❤️.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *