Bulan April lalu genap 3 tahun saya berprofesi sebagai asisten guru. Dalam 2 tahun pertama, saya bekerja sambil kuliah – 3 hari magang di sekolah dan 1 hari belajar di kampus. Setelah lulus, saya resmi menyandang titel ‘onderwijsassistent’, dan bekerja 2,5 hari seminggu. A very nice transition, dari yang tadinya full time ibu rumah tangga, sekarang saya punya kegiatan di luar rumah, juga masih punya waktu untuk keluarga.

Saya bekerja di sebuah sekolah dasar di Utrecht, satu setengah hari sebagai asisten – menemani guru di kelas TK A/B, dan satu hari mengajar sebagai guru di kelas yang sama. Di Belanda, SD itu punya 8 kelas, grup 1 dan 2 itu sebenarnya TK, grup 3 sampai 8 adalah sekolah dasar.

Anak-anak yang peragu dan pasif

Table of Contents

Selama 3 tahun mengajar, saya berhadapan dengan berbagai tipe anak (dan orangtua). Umur anak-anak ini berkisar dari 4 sampai 6 tahun. Sejatinya mereka sudah lancar bicara, tapi karena sekitar 50% dari populasi murid datang dari keluarga pendatang (bukan penduduk lokal), setengah kelas terisi oleh anak-anak yang tidak produktif berbahasa. Mereka banyak diam, karena tidak sepenuhnya mengerti apa yang guru dan teman-teman bicarakan, dan tidak punya cukup kosa kata untuk mengeluarkan pendapat.

Menghadapi anak-anak yang diam ini membuat saya gemas. Bukan hanya soal urusan bicara, anak-anak ini juga sangat pasif dalam hal lainnya. Bermain, menggambar, olahraga, dan sebagainya. Bahkan jalanpun sangat lambat!!! Kalau kita panggil mereka untuk mendekat, mereka akan berjalan seperti pengantin, dengan langkah berat seakan-akan ada batu yang menggantungi kakinya!

Takut salah

Sebagai sesama pendatang, saya mengerti sekali mengapa mereka seperti itu. It’s not easy to be thrown out in a new place where everyone speaks a language you don’t understand. Sebagai orang dewasa yang mampu menyelamatkan diri sendiri, saya memilih untuk lebih banyak diam di tengah kolega yang cas cis cus bahasa Belandanya.

Rasa takut salah, takut salah mengerti instruksi yang diterima, takut salah bertindak dan menerima feedback negatif – yang again! – diucapkan dalam kecepatan tinggi dan tidak sepenuhnya kita mengerti, hal-hal ini membuat kita membeku dan tidak berani melakukan sesuatu.

Alhasil rasa takut untuk berbuat salah ini jugalah yang akhirnya jadi Momen Salah, yang kalau tidak ditindaki bisa jadi panjang dan berkelanjutan. Rasa takut salah membuat seseorang menjadi pasif, tidak berani mencoba, padahal pada akhirnya kunci sukses melakukan sesuatu itu cuma satu: Latihan yang berulang-ulang.

Takut gagal

Semua murid sekolah pernah mendengar cerita tentang Thomas Edison yang membuat lebih dari 3000 percobaan sampai akhirnya bisa menciptakan bohlam. Kutipan terkenal dari beliau,

I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.

mengajarkan kita kalau justru berlatih dan melalui momen salah yang berulang adalah proses perkembangan untuk mencapai kesempurnaan. Tapi sebagai manusia, kita ini tidak suka kegagalan. Otak lapisan dalam (primitive brain) memproses kegagalan sebagai ‘bahaya’ yang harus dihindari. Begitu juga dengan usaha yang keras dalam mengerjakan sesuatu, hal-hal yang melelahkan dan tidak nyaman mengaktifkan warning dalam otak dan memaksa kita untuk berhenti.

Untunglah kita juga punya lapisan luar (cortex) yang membantu kita untuk menganalisa apakah hal yang tidak nyaman ini memang mengancam hidup atau hanya mengurangi kenyamanan. Kemampuan menganalisa inilah yang menjadi kunci apakah kita akan terus berhenti karena takut, atau akhirnya berani mengambil tindakan.

Anak-anak yang penuh keraguan di kelas saya bertarung dengan rasa takut gagal terus menerus. Mereka seperti beku – fight, flight or freeze, adalah opsi pertama yang tersedia. Mereka membutuhkan orang-orang yang bisa mendorong mereka untuk mencoba dan mengambil langkah pertama, dan memberikan semangat ketika mereka pada akhirnya (pasti sempat) mengalami kegagalan.

Takut lambat

Takut gagal ini bukan dialami oleh anak-anak ini saja. Saya pun secara pribadi bergumul setiap hari, berargumentasi dengan otak primitif bahwa rasa tidak nyaman ini bukanlah tanda untuk berhenti, tapi justru tanda bahwa saya akan berkembang. Karena sesungguhnya, setiap kali kita merasa tidak nyaman, ada informasi baru yang sedang diproses dalam sistem kita.

Sebagai orangtua, kita tidak suka gagal, dan juga tidak suka melihat anak-anak kita mengalami kegagalan. Gagal berarti penundaan; munculnya masalah baru, butuh waktu lebih lama untuk memperbaiki kesalahan, atau untuk mengulang prosesnya lagi. Contohnya ketika anak-anak belajar untuk makan sendiri, orang Asia kebanyakan memilih untuk menyuapi anak dibanding membiarkan mereka makan sendiri. Alasannya? Kalau makan sendiri jadi berantakan, makanan banyak yang jatuh, akhirnya jadi sedikit yang masuk. Kalau makan sendiri mereka lama banget selesainya, bajunya jadi kotor, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, filosofi barat mengajakan anak untuk lebih awal mencoba sesuatu sendiri. Anak umur dua tahun makan sendiri – luar biasa berantakan, tapi hasilnya mereka lebih dahulu bisa makan sendiri dan akhirnya lebih cepat makan dengan rapi daripada anak-anak yang selalu disuap.

Sebagai orangtua kita memilih untuk mengerjakan banyak hal untuk anak-anak demi efisiensi waktu. Anak-anak di kelas saya harus bisa berpakaian sendiri karena tiap hari ada pelajaran olahraga dan mereka harus ganti baju dan lepas sepatu. Terlihat sekali perbedaan anak-anak yang di rumahnya sudah ganti baju sendiri dan yang dibantu. Yang biasa dipakaikan pakaian, bukan hanya mereka struggle untuk pakai baju sendiri – mereka malah hanya diam saja, menunggu dipakaikan! Dan again, karena mereka pasif sekali, mereka tidak datang minta tolong. Diam saja sampai ada yang membantu.

Jurus ajaib yang kami lakukan di sekolah untuk membantu anak-anak ini adalah membiarkan mereka melakukan semua sendiri. Mereka butuh lebih dari setengah jam untuk berpakaian, sampai tidak punya waktu sisa untuk bermain, tapi biasanya setelah dua minggu sampai satu bulan, mereka bisa berpakaian sama cepatnya dengan anak-anak yang lain. Sadis? Iya. Efektif? Iya juga.

Takut (dia) marah

Takut membuat kesalahan ini menjadi faktor penghalang dalam perkembangan seseorang. Bukan hanya dalam mempelajari sesuatu, takut salah juga sering terjadi dalam berhubungan dengan orang lain. Takut bikin orang lain kesal, marah, kecewa – semua ini membuat seseorang tidak bisa leluasa bertumbuh.

Dalam 3 tahun terakhir, saya bukan hanya belajar untuk lebih berani mencoba, mengalami dan melalui kegagalan supaya bisa berkembang, tapi juga belajar untuk berani menjadi diri sendiri dan mengurangi kecenderungan menyenangkan orang lain. Yang tadinya banyak di rumah untuk kemudian berhadapan dengan banyak manusia – orang-orang yang cas cis cus berbahasa Belanda, saya sempat merasa inferior. Rasa sopan, segan, tenggang rasa yang saya banggakan sebagai orang Timur, bukannya menjadi kekuatan malah menjadi batu sandungan. Rasa gak enakan membuat komunikasi dengan kolega tidak lancar, menciptakan ekspektasi yang tidak jelas, yang kemudian membuat saya frustrasi sendiri kalau merasa dipelakukan tidak adil.

Saya belajar untuk menciptakan batasan yang jelas dan mengkomunikasikan batasan ini dengan tenang kepada orang lain, supaya bisa sama-sama enak. Apa yang saya bisa lakukan, apa yang tidak mungkin dilakukan, apa yang bisa saya bantu, apa yang tidak nyaman – semua dijelaskan bukan melalui air muka atau sikap saja, tapi dijelaksan secara lugas supaya semua pihak paham.

Cara ini membuat saya lebih leluasa bergerak. Saya tidak lagi sibuk merasa tidak enak, merasa tidak dimengerti, merasa takut orang lain marah. Saya menggunakan waktu yang tadinya dipakai untuk mengkuatirkan perasaan orang lain untuk hal-hal yang lebih bermakna. Apakah semua orang bisa menerima perubahan ini? Tidak juga, tapi selama saya menyampaikan semua dengan cara yang sopan, penerimaan orang lain bukanlah tanggungjawab saya.

Tantangan menulis

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini membuat saya memikirkan ulang tentang perlunya berani membuat kesalahan. Momen salah yang selalu dicoba dihindari, justru harus dijalani. Kalau saya tidak berani menuliskan semua ini karena terlalu takut tulisannya tidak bagus, maka tidak akan ada tulisan yang bisa diedit. Tidak akan ada produk akhir. Tidak akan ada partisipasi dalam komunitas MGN.

Jadi para Mamah, jangan takut berbuat salah, jangan takut anak-anak membuat kesalahan. Yang penting kita bisa belajar dari kesalahan itu, dan bangkit lagi. Yuk, sekian dan terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *