Ahahahaha what a title 😛

This should be a first posting in this blog. I planned to write down some thoughts I have in mind while I’m wandering in this complicated world. I used to write a lot. A LOT. A natural – born to be a talkative person – mind you 😛

I used to write in my diaries. Poems, my thoughts, my journal, and off course those nonsense things about boys I dated 😛 But lately I never write anything, don’t have much will to pamper myself in such melancholy feelings or thought.

But sometime I write quite much, in emails for my sister in Thailand. We used to share stories, and she kept saying she wants to write a book of what we share. When we were still staying in Indonesia, we used to talk on the phone for hours (when I say hours, it can be like 5 hours :P) and we did have some high-quality discussions on life, on relationship, on God.

This morning, I received an email from her. Been some time since the last time we talked a lot – I miss that time so much but now I better avoid any discussion that can lead me to crying or pitying myself :P.

This’ her email. And it is in Indonesia language. Please don’t expect me to translate that, it’s too unimportant and silly, and I bet you don’t want to know either 😛

But anw, she reminded me how I used to write and she said (she said, not I said), she likes my writing and I should give writing a thought. (I did, I just don’t want to let you know how pathetic I can be when it comes to “personal problems” *ahahahhaa*

Risna
19/09/2008 10:27 AM

To
Irene Cynthia
cc
Risna
Subject
didkgyidh

masih ingat email ini yang kau posting di blog friendster?
hari ini aku membacanya lagi gara-gara blog fs di update dan mereka membuat semua posting seakan-akan posting baru.

Sent to you by Risna via Google Reader:

didkgyidh
via irene’s by garaningnyawa on 6/20/06

From: dea
Sent: Tuesday, June 20, 2006 6:26 PM
To: Irene; Risna

Subject: didkgyidh

kadang enak juga suka ngambek jadi berhak untuk ngambek (menurut orang yang suka ngambek dan orang2 di sekitarnya karena merasa sudah biasa dia ngambek)

kalo orang ga suka ngambek pas lagi ngambek jadi dianggap aneh dan melanggar ketentuan (menurut orang yang suka ngambek yang nggak suka kalo liat orang lain ngambek dan orang-orang di sekitarnya yang merasa aneh kok tiba-tiba orang ini ngambekan sih…)

jadi lebih berat untuk orang yang biasanya tidak ngambek karena kadang-kadang dia pingin ngambek juga padahal dia dituntut untuk tidak ngambek dan selalu siap menerima ambekan orang lain

no offense ya, belum ada hubungannya dengan kengambekan kamu karena jumlah sample masalah masih di bawah angka 10. secara empiris belum bisa dibuktikan kalau kamu itu tukang ngambek meskipun sudah ada gejala ke arah sana. tapi secara legal belum bisa diputuskan dan masih ada kemungkinan hipotesa yang dikeluarkan salah karena jumlah sample belum memenuhi ketentuan dan waktu analisa masalah juga dirasa kurang.

yang aku tulis di atas adalah hasil analisa dan penelitian terhadap sebuah bentuk pertemanan yang kebetulan pelakunya aku dan temanku. jadi dalam hal ini ada faktor subjektifitas karena peneliti adalah pemeran kegiatan yang sedang diteliti. tapi aku sudah mencoba untuk bersikap objektif dalam menilai (paling tidak menurutku aku sudah mencoba) dan aku menyimpulkan bahwa dalam pertemanan akhirnya akan muncul pola yang membagi dua pihak menjadi pihak yang lemah dan pihak yang kuat dan pola ini akan berlaku dengan sangat kuat dan hampir pasti konstan – si lemah terus menjadi si lemah dan si kuat terus menjadi si kuat.

dalam hubungan tiap individu, pola ini akan tetap berjalan meskipun dengan kombinasi yang berbeda.
contohnya: aku dan seorang temanku:
dia lemah aku kuat dia terus menerus membutuhkan aku dan aku hampir tidak butuh dia
aku dan ade, malaikatku: aku lemah dia kuat aku hanya bisa cerita ke dia kalau aku sedih sementara kalau dia ada masalah dia belum tentu mau cerita ke aku (meskipun biasanya aku selalu find out lewat mimpiku)

hal itu disebabkan teori berikut ini: tidak mungkin si kuat mau bercerita pada si lemah karena dia merasa tidak enak, segan, tidak wajar, dan hal-hal yang sudah aku ungkapkan sebelumnya tentang orang yang suka ngambek dan yang tidak suka ngambek di atas…

kondisi ideal dalam sebuah pertemanan yang baik adalah pola si lemah dan si kuat ini bisa berlangsung (dan pasti berlangsung) tapi tidak bersifat konstan melainkan reverseable.
si lemah bisa jadi kuat pada saat si kuat sedang lemah dan sebaliknya… 😀

Contoh kasus yang paling aku suka: aku dan kakak sepupuku, rhin
kombinasinya hampir begitu bagusnya sehingga kami hampir selalu sama-sama kuat karena pada saat salah satu lemah kedua pihak somehow akhirnya bisa mentertawakan kelemahan itu dan membiarkan itu lewat begitu saja…

hal ini hanya bisa terjadi bila si kuat betul-betul mengenal si lemah dan bisa percaya bahwa apapun yang terjadi si lemah sebenarnya tidak benar-benar lemah dan tidak sepenuhnya tergantung dan membebani si kuat.

hal ini hanya bisa terjadi bila si lemah bisa membatasi ketergantungannya pada si kuat dan belajar untuk menjadi kuat karena pada saatnya si lemah memang harus jadi kuat…

persoalan terjadi ketika satu orang yang extremely lemah menjadi kuat atau ada satu orang extremely kuat berubah menjadi lemah karena pasti ada adjustment yang harus dilakukan dan dimanapun adjustment itu sifatnya menyebalkan..

sebagai seseorang yang pernah dan sedang mengalami perubahan itu *untuk kasusku aku berubah dari sangat lemah menjadi kuat* banyak kesulitan terjadi ketika aku berganti lingkungan karena pada saat lingkungan baru melihat aku sebagai aku yang kuat tapi tidak pernah melihat aku versi aku yang lemah… mereka mengadakan penolakan bila tiba-tiba aku terlihat lemah..

atau bahkan bila orang-orang dari lingkungan lamaku (misalnya keluarga) sudah biasa melihat aku sekarang jadi kuat tiba-tiba aku jadi lemah mereka akan cenderung mencegah dan menolak sikap lemahku sehingga aku harus mencoba untuk (paling tidak menampilkan) tetap kuat.
satu-satunya yang bisa membuat perasaan lega adalah pihak-pihak yang “can see me through”… sehingga aku tidak perlu memutuskan di depan orang-orang itu aku harus jadi aku yang lemah atau aku yang kuat…

anyway mereka ga perduli karena mereka kenal aku yang sebenarnya – versi manapun juga…
sebenarnya itu keinginan semua orang – menemukan orang yang bisa melihat siapa sebenarnya kita dibalik topeng-topeng yang kita kenakan

tapi sayangnya itu cuma satu di antara berjuta… sulit sekali bisa menemukan orang yang di depannya kita ga usah jadi siapa-siapa

aku menyebutnya

garaning nyawa

itu bahasa jawanya belahan jiwa…

*for my beloved garwa, cuma thank you i can say to you
on the very tuesday of the very 20th of june 2006
irene cynthia

Funny thing, actually I want to address this email to someone –say A because I was quite upset of A’s habit to be mad at small things/mistakes I made. We just started to be friends at that time and this A was quite demanding 😛
But I didn’t have the guts to send the email to A, so I wrote it to clear out my frustration, only I sent it to my sister and my own email at home

But then on the end of the writing, I addressed the text for my spiritual guru 😛 – someone who knows me better than anyone else, even in my darkest time. Garwa, I damnly miss you now!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *