Komunitas Menulis Membuatku Ceriwis

Hallo parah Mamah Gajah! Ketemu lagi dengan saya di sini 🙂

Kali ini saya mau menulis soal komunitas, sesuai dengan tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober 2021: Komunitas Yang Aku Cintai.

Tema yang menarik karena baru beberapa bulan yang lalu saya bergabung ke dalam dua komunitas menulis: Kelas Literasi Ibu Profesional alias KLIP, dan Mamah Gajah Ngeblog atau yang kita sebut MGN. Dan sejak terjun bebas ke dalam dua grup ini, bisa dibilang hidup saya berubah 90 derajat. Siap membaca ceritanya?

Kepribadian ganda

Pasti banyak yang tidak percaya, tapi sebenarnya saya orangnya pendiam. *errr* Selain pendiam, saya juga bersikap tertutup dan sering bersikap terlalu serius. *errr lagi* Atau paling tidak begitulah salah satu dari kepribadian saya yang tidak terlalu banyak orang tahu.

Ya, ya, saya ini sepertinya punya kepribadian ganda. Satu sisi agak gila dan ramai dan seperti tukang jual jamu di pasar, tapi satu sisi lain tidak suka bergaul dan pemikir berat. Dan biasanya, saya tidak mampu untuk menunjukkan kedua sisi ini kepada satu kelompok yang sama. Jadi biasanya di satu kelompok saya terkenal bawel, dan sisi saya yang serius hanya tersimpan untuk kalangan tertentu saja.

Merantau bikin kita jadi pendiam

Sepuluh tahun bermukim di Eropa, jauh dari keluarga dan kerabat membuat sifat tertutup saya semakin matang. Mungkin karena kendala bahasa, saya yang dikenal banyak orang ceriwis (yo wizz, hihihi) tidak bisa lagi bawel karena waktu saya tiba, saya belum lancar berbahasa Belanda.

Belum lagi perbedaan budaya (dan tinggi badan) dengan noni noni Belanda. Sering kali faktor ini membuat saya tidak kurang percaya diri dan memilih diam. Bagaimana tidak, kebiasaan untuk ceplas ceplos dan ikutan mengemukakan pendapat pastinya tidak akan jalan dong kalau kemampuan bahasanya cuma sampai menebak si lawan bicara sedang berbicara tentang tema apa. Bukan sekali dua kali saya hanya senyum dan ikut tertawa ketika orang menerangkan sesuatu – antara sopan dan juga gagu karena nggak mengerti beliau ngomong apa.

Katanya, orang Belanda tinggi karena tanah Belanda ada di bawah permukaan laut. Jadi mereka harus menjulurkan leher supaya dapat Oksigen. Makanya jadi pada jangkung deh mereka. (Foto: BBC)

Meskipun cukup banyak orang yang berbicara dengan bahasa Inggris, tapi secara umum kebingungan berbahasa membuat saya menjelma menjadi manusia yang pendiam. Bukan hanya bahasa saja. Karena di sini saya bergaul dengan memakai nama tengah saya (nama pertama selalu mendapatkan pelecehan pengejaan oleh orang yang bukan orang Indonesia) – lama-lama saya pun agak bingung, sebenarnya saya ini siapa? 😀

Menciptakan alter-ego untuk menulis

Kalau tidak bisa bicara, menulislah.

kata orang.

Dahulu kala di masa sekolah dan kuliah, saya menulis setiap hari. Diary yang bentuknya buku fisik ada beberapa jilid. Dan diary yang ditulis di komputer sampai ribuan halaman panjangnya. Lalu saya mulai rutin menulis di blog di tahun 2008, atas ajakan si Sep alias si sepupu (dia lagi, dia lagi :D). Pernikahan dan kelahiran anak-anak membuat saya berhenti menulis.

Pertengahan tahun 2020, di masa pandemi sedang hot-hotnya, saya meminta dibelikan laptop kepada Pak Suami. Saya bilang, saya ingin menulis kembali. Lalu di awal tahun 2021 ini, Sep kembali beraksi, berusaha menarik saya untuk bergabung di komunitas menulis yang dia ikuti.

Bukan baru sekarang dia mengajak, tetapi selalu saya tolak. Sisi introvert dalam diri saya tidak ingin dilihat orang, tidak ingin dibaca, dan tidak ingin diketahui seakan menjerit: “Biarkan aku, ku hanya ingin sendiri.”

Sep menjamin bahwa saya bisa tetap memelihara sisi ini. Berbekal pseudonym dan facebook account kosong tanpa teman saya pun bergabung dengan komunitas menulis pertama: KLIP. Di sana tidak ada kewajiban bahwa tulisan saya harus dibaca orang lain. Yang penting kamu menulis, itu kata si Sep. Sep menjamin saya bisa terus anonim.

Tapi ternyata semua tidak berlangsung lama. Sepupu lain dengan cepat mengendus keberadaan saya di KLIP. Hanya beberapa minggu kemudian identitas saya pun terbongkar. Ada beberapa orang alumni kampus saya yang ada di KLIP dan mengenal saya. Untungnya selain segelintir nama itu, ratusan orang lainnya tidak ada yang mengenal siapa Irene Cynthia. Perjalanan saya menulis melalui si alter ego pun dimulai.

Tentu saja, memelihara kepribadian kedua ini gampang-gampang susah. Waktu saya akhirnya bergabung di MGN, hal pertama yang ditanya waktu pendaftaran adalah nama asli dan NIM sewaktu berkuliah! Oh oh, kumaha ieu. Maunya anonim tapi disuruh pakai nama asli. Tapi untunglah, sekali lagi hanya sedikit yang mengenal saya secara langsung. Meskipun tetap membingungkan. Karena akhirnya semua orang memanggil saya dengan nama yang berbeda 😀

Menjadi seorang Irene Cynthia dan berkomunitas membuat saya menemukan banyak hal. Saya yang sudah sepuluh tahun lebih banyak diam berubah menjadi ceriwis. Mungkin saking leganya bisa ngoceh dalam bahasa ibu, saya seperti anjing yang tadinya diberangus jadi tidak bisa berhenti menggonggong. Ah masak contohnya anjing sih. Atau mungkin seperti burung kenari yang disimpan di sangkar dan ditutup kain, lalu dilepas ke alam bebas, saya pun tidak berhenti bernyanyi.

Serasa jadi orang lain kalau lagi menulis dengan nama samaran. (Foto: Istockphoto)

Yah, semacam itulah. Yang jelas, saya merasa bebas berekspresi dalam tulisan. Sambil bisa beranonim meski tidak lagi 100 persen anonim, melalui dua komunitas menulis ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri.

Yah, masak segini aja nih? Dikasih tema tentang komunitas malah cerita tentang masalah kepribadian yang agak ababil?

Eh, tentu nggak dong. Ibu juri dan ibu-ibu yang membaca teruskan dulu membacanya. Karena saya akan bercerita, faktor apa saja yang membuat dua komunitas menulis ini – KLIP dan MGN, menjadi komunitas yang ngangenin:

Komunitas yang membangun

Satu hal yang membuat saya bahagia adalah saya merasa banyak dibangun sejak bergabung dengan KLIP dan MGN. Mengutip lagu kebangsaan kita, “bangunkan jiwanya, bangunkan raganya”, saya seperti dibangunkan dari tidur yang panjang di dalam menjalani peran sebagai ibu rumah tangga.

Yang tadinya lebih banyak “di rumah saja” (bukan slogan Corona), saya kembali ke ‘luar’. Bertemu dengan banyak teman yang tidak pelit membagi ilmu. Mendapat pengetahuan akan hal-hal yang saya sudah lupa atau belum tahu. Mengikuti kegiatan yang membangun.

Sepertinya itu sih faktor utama yang membuat saya merasa senang berada di dua komunitas menulis ini. Karena melalui bergabung dengan mereka saya belajar banyak hal:

Konsistensi

Belajar untuk konsisten adalah satu tema besar di dalam KLIP. Setiap bulan (yang isinya 30 atau 31 hari), kita dituntut untuk menulis paling tidak 10 kali. Yah, 10 hari sebulan, kan gampang aja ya? Tapi ternyata banyak juga teman-teman yang akhirnya gugur karena jumlah setorannya kurang dari 10 dalam sebulan. Padahal jumlah kata yang diminta dalam tulisan itu sedikit lho, hanya 300 sampai 500 kata saja. Ternyata memang belajar konsisten itu susah ya.

Tentu saja buat saya konsisten menulis setiap hari juga susah. Di tengah kesibukan (alasan aja ini sih) sebagai ibu rumah tangga, menyempatkan menulis setiap hari itu tidak mudah. Tapi demi mendapatkan badge emas yang bisa kita peroleh kalau berhasil menulis setiap hari selama sebulan, yaa… dipaksakan lah. Kan saya menulis untuk menang dari diri sendiri.

KLIP membantu kita konsisten dengan memberikan piagam berbunga-bunga.

Akhirnya memang lama kelamaan kegiatan menulis setiap hari ini menjadi sebuah kebiasaan. Dan bukan untuk urusan menulis saja. Latihan menulis yang menimbulkan perasaan “oh saya bisa konsisten toh, ternyata…”, membuat saya juga menuntut diri untuk semakin konsisten dalam bidang lain di kehidupan saya.

Jadi, kalau Mamah MGN mau belajar konsisten, yuk gabung KLIP di tahun 2022 nanti. (iklan)

Ramah dan bersahabat

Baik di KLIP maupun MGN, saya merasakan sebuah aura yang ramah dan bersahabat. Ucapan-ucapan yang disampaikan sopan dan terjaga etikanya. Jujur, sebagai orang yang tidak bergaul, saya sungkan masuk ke dalam sebuah komunitas yang anggotanya banyak. Apalagi kalau tidak kenal.

Rasanya nggak siap untuk basa-basi, atau ikutan ngomong di WA group. Eh ndalilah, lama-lama jadi saya yang kebanyakan bicara! Tapi ya itu, saya sungguh menghargai bahwa di dua komunitas ini saya belum pernah ketemu ada konflik yang besar. Dan semua anggota tampak berusaha untuk dengan sopan menyampaikan pendapatnya – walaupun ada pendapat yang berbeda.

Sikap sopan dan ramah ini membuat saya seperti punya ‘keluarga’ lain. ‘Keluarga menulis’ – katakanlah begitu. Memang tidak semua bisa kita ungkapkan di WAG komunitas ya. Tapi untuk seorang perantau yang tidak punya banyak kontak sosial di negara orang, saya merasa KLIP dan WAG seperti sebuah keluarga.

Faktor lain saya merasa nyaman di KLIP dan MGN adalah kenyataan bahwa anggotanya ibu-ibu semua. Para anggota diterima keberadaannya apapun status mereka. Apakah mereka ibu yang bekerja di kantor, atau ibu rumah tangga. Mengikuti kegiatan komunitas secara daring sambil melakukan pekerjaan rumah tidak dianggap aneh atau menyalahi aturan. Malahan kita semua saling menyemangati satu sama lain di dalam perannya sebagai perempuan, apapun pekerjaannya sekarang.

Sambil ikutan webinar sambil nyelesain setrikaan. Demi keluarga dan komunitas tetap jalan.

Banyak ilmu baru

Sebagai seorang yang suka menulis tapi bukan penulis, saya mendapat banyak ilmu baru dari dua komuntas ini. Lewat acara-acara seperti Ruang Berbagi di KLIP, atau webinar tentang nge-blog yang diadakan oleh MGN, saya belajar banyak hal yang belum pernah saya tahu.

Pengetahuan baru ini benar-benar membuka mata saya, dan juga membantu saya untuk menulis dengan lebih baik lagi. Misalnya melalui workshop di KLIP tentang pembuatan kerangka tulisan, saya belajar untuk menulis dengan lebih efektif dan terstruktur. Atau saya jadi belajar untuk membuat account blog di WordPress yang tadinya terlihat sangat sulit (sekali lagi atas bantuan si Sep, terimakasih Sep!). Pengetahuan tentang pengaturan menu di blog, SEO, lomba blog, komunitas penulis yang lain, dan masih banyak lagi.

Bisa karena terpaksa

Nah, bisa karena terpaksa adalah salah satu hal lain yang tentangnya saya belajar banyaaaaaaak sekali. Pertama-tama, saya tidak bisa menulis di dalam Bahasa Indonesia. Di awal saya bergabung dengan KLIP, saya ikut TTM (ajang tantangan menulis mingguan) di dalam bahasa Inggris karena saya merasa lebih biasa menulis begitu.

Tentu dong nggak menang, hehehe. Karena penasaran, saya mencoba untuk menulis di dalam bahasa Indonesia. Duh, rasanya ngganjel banget menyusun kalimat-kalimatnya. Tapi ternyata bisa lho! Dengan sebuah keterpaksaan menulis di dalam Bahasa Indonesia, saya malah menyadari ternyata dengan bergabung di dalam komunitas KLIP dan MGN, saya ini bisa ikut serta melestarikan Bahasa Indonesia!

Hal lain yang ‘terpaksa’ dan membuat saya belajar adalah bagaimana caranya menulis sesuai dengan tema yang ditentukan oleh orang lain. Buat saya yang hanya tahu menulis hal-hal yang sifatnya perenungan pribadi, hal ini adalah sebuah misteri. Bodoh juga ya, padahal kan dulu di sekolah sering disuruh oleh bapak ibu guru untuk membuat karangan dengan tema tertentu. Eh, tapi kan nilai Bahasa Indonesia saya selalu pas-pasan.

Balik ke topik tema yang memaksa, mengikuti tantangan (terutama tantangan MGN) membuat saya berusaha keras untuk menulis dengan baik sesuai tema, dan dengan Bahasa Indonesia. Double trouble! Setiap tulisan tantangan bisa diulang berkali-kali saking sulitnya. Eh tapi ternyata memang hasil tidak mengkhianati usaha – saya pernah dua kali menang tantangan MGN. Aduhai bahagianya.

Menjadi pengurus di KLIP juga memaksa saya belajar banyak hal. Memaksa belajar Canva, memaksa mengaktifkan kembali account sosial media (meskipun account kosong hehe), dan memaksa saya belajar manajemen waktu dan masih banyak lagi. Memang ya, kalau terpaksa malah jadi banyak belajarnya.

Fakir sertifikat

Di KLIP, kalau kita berhasil menulis secara konsisten setiap bulan, kita akan mendapatkan badge. Badge ini warnanya berbeda-beda: warna hijau untuk yang berhasil 10 kali menulis, warna biru kalau berhasil 20 kali dalam sebulan, dan warna kuning alias emas kalau berhasil 30 kali setoran dalam sebulan.

Kalau di MGN, ada beberapa kesempatan untuk mendapatkan sertifikat digital. Pertama jelas kalau kita menang Tantangan Bulanan. Semua 10 peserta dengan tulisan terbaik akan mendapatkan sertifikat penghargaan.

Tapi sertifikat yang saya paling suka adalah sertifikat untuk 3 pengumpul tulisan tercepat. Kenapa? Karena kalau saya berhasil mengumpulkan dengan cepat; 1. Saya bisa mengalahkan kemalasan saya dan sifat saya yang selalu menunda sampai saat terakhir (seperti hari ini), 2. Saya bisa dapat sertifikat meskipun tulisan saya tidak berhasil masuk dalam urutan 10 terbaik.

Menang gak menang, yang penting pulang bawa piagam. (Ikutan MGN juga mengasah kemampuan bikin pantun).

Haha, ya begitulah, meskipun sebenarnya sertifikat ini tidak bisa dipakai buat beli minyak, tapi sebagai ibu-ibu yang urusannya biasanya hanya di dapur saja, rasanya hati berbunga-bunga juga kalau dapat ‘piagam’.

Berbagi dan melayani

Sayangnya, seperti quote dari Spiderman, “With great power comes great responsibility.” Artinya: kalau kamu dapat piagam, kamu harus siap jadi juri :D.

Bahkan Spiderman pun suka menulis, meskipun kadang harus jadi juri. (Foto: Google)

Memenangkan lomba menulis itu satu hal, tapi menjadi juri itu hal yang lain. Begitu juga ketika si Sep meyakinkan saya untuk menjadi pengurus KLIP. Jadi anggota komunitas itu satu hal. Jadi pengurus itu hal yang lain.

Tapi toh meskipun akhirnya ada beban tambahan yang harus dikerjakan, saya tetap bersedia dan senang melakukannya. Selain dikerjakannya tidak sendirian, melainkan bersama-sama dengan teman-teman yang semua positif kinerjanya, saya juga melihat ini sebagai sebuah momen dan kesempatan untuk berbagi.

Berbagi waktu, perhatian, bantuan. Melayani dengan cara menjadi pengurus tantangan mingguan di KLIP dan menyediakan tema untuk ibu-ibu yang lain yang harus setoran tapi belum tahu mau nulis apa. Berbagi keceriaan sewaktu pengumuman pemenang MGN.

Mungkin saja, entah bagaimana, semoga saja, salah satu sapaan saya yang tidak berarti ini bisa mencerahkan hari seseorang di ujung sana.

Temukan dirimu melalui hubunganmu dengan orang lain

Ada satu buku yang saya baca di dalam Bahasa Belanda, “Jij die Mij Ik Maakt”. Susah amat ya judulnya. Terjemahan Bahasa Indonesianya: kamu yang membantuku menjadi aku yang sekarang ini.

Buku ini menjelaskan kalau di dalam proses kehidupan, kepribadian kita terbentuk bukan hanya oleh faktor internal (dari dalam diri kita) sendiri saja. Orang-orang yang ada di sekitar kita dan apa yang mereka lakukan dengan/kepada kita, memberikan pengaruhnya sehingga kita bisa menjadi sebuah pribadi dengan karakter tertentu.

Seperti saya ceritakan di awal, mengikuti KLIP dan MGN ‘mengubah’ saya dari seorang yang banyak diam menjadi ceriwis. Atau mungkin bukan mengubah, tapi mengembalikan sifat lama yang banyak tertutup karena kendala bahasa. Atau mungkin bukan cuma soal bahasa, tapi karena merasa tidak pernah bertemu dengan orang dengan minat yang sama.

Tapi di dalam diskusi kami di KLIP, mbak Shanty menjelaskan kalau memang bisa lho kita menemukan diri sendiri melalui hubungan kita dengan orang lain. (Tuh kan, makanya ikutan KLIP, suka banyak ilmu yang terbang-terbang di WAG).

Sebuah sistem yang dinamakan Johari Window menjelaskan hal ini.

Johari Window. (Foto: Succesfulculture)

Mengikuti komunitas KLIP dan MGN telah membantu saya mengenal diri saya sendiri. Meskipun ya tentu saja, pengenalan akan diri sendiri itu juga adalah sebuah proses yang tidak pernah usai. Meskipun saya senang bisa bersikap lebih terbuka (baca: ceriwis) seperti sekarang, tetapi di saat yang sama saya pun perlu belajar untuk menyesuaikan diri, menahan diri supaya perubahan yang saya alami tetap merupakan perubahan yang positif.

Penutup

Saya bersyukur kepada Tuhan, bahwa lewat dua komunitas menulis ini, saya boleh mengisi tahun 2021 dengan lebih produktif. Meskipun produktivitas menulis ini juga harus terus diimbangi dengan usaha bekerja lebih efektif supaya tidak menjelma jadi Mama Ali. Tapi semoga tahun depan, ada banyak hal baru yang dipelajari, dan semoga apa yang sudah tahu bisa jadi manfaat bagi diri sendiri juga orang-orang di sekitar saya. Amin.

7 Thoughts on “Komunitas Menulis Membuatku Ceriwis

  1. siapa itu Sep Sep hahahha, terus sambil sebut Sep sambil kasih backlink gitu yah. Terus kenapa itu ada mama Ali disebut2 dalam tulisan ini. Sepertinya mama Ali perlu punya komunitas biar nggak jadi kayak gitu

  2. Lucuuu baca ketauan juga identitasnya. Alhamdulillah, seneng bacanya MGN bisa membuat jadi ‘cerewet’. Semoga teh Dea makin semangat nulis dan menular juga ke yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *