Makanan Belanda: Yang Diadopsi, Yang Khas, Yang Tidak Disukai, dan Yang Bukan dari Belanda.

Karena Idulfitri baru saja usai, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini bertema Makanan Khas Kota Mamah. Ceritanya sih biar Mamah bisa sharing makanan khas dari kota tempat mereka tinggal.

Sulit juga, karena ngomongin makanan, bagi saya udah final kalau makanan Indonesia lebih enak daripada makanan Belanda! Di rumah kami, menu utama setiap harinya tetap makanan Indonesia.

Makanan Belanda yang diadopsi Indonesia

Karena Indonesia dulu dijajah Belanda, otomatis ada beberapa masakan Belanda yang diadopsi oleh dapur Indonesia. Contohnya kastengel, yang khas di suasana Lebaran ini. Kue kecil-kecil dengan parutan keju ini konon diadaptasi dari Belanda.

Aslinya kastengel ini bernama kaasstengel – alias kaas – stengel (tangkai keju). Intinya, semua kue keju yang bentuknya batangan bisa dinamakan kaasstengel. Berbeda dengan kastengel Indonesia yang imut-imut, kaasstengel Belanda biasanya besar dan panjang. Seperti pentungan, panjangnya bisa sampai 30 centimeter. Dibuat dari adonan pastry dicampur parutan keju, lalu dipilin dan dipanggang.

Kaasstengels yang umum dijual di bakery. Foto: keukenliefde.nl
Plesetan kaasstengel jadi kaas-tengel, keju batang dibalut semacam kulit lumpia lalu digoreng. Dijual di supermarket untuk dimasak di rumah. Foto: topking.nl

Kudapan asal Belanda yang juga banyak ditemui di Indonesia adalah poffertjes. Waktu masih tinggal di Indonesia, saya pingin banget mencoba bikin poffertjes sendiri karena namanya yang unik dan rasanya yang kayaknya wow banget. Tapi melihat bentuknya bulat-bulat sempurna begitu saya jadi grogi duluan dan tidak berani mencoba.

Di sini saya menemukan kalau ternyata bentuknya kempes-kempes biasa saja, nggak secantik poffertjes Indonesia yang menul-menul. Dimakan dengan potongan mentega dan gula halus.

Dimakan dengan potongan mentega yang akan meleleh bertemu dengan poffertjes yang baru matang. Foto: ald.kitchen

Bahannya sama aja kok dengan bahan pancake, cuma bentuknya saja yang kecil-kecil. Saya sendiri masih lebih suka rasa kue cubit, apalagi yang dibikin dengan pola sarang laba-laba, nyam-nyam!

Makanan Indonesia yang diadopsi Belanda

Sebaliknya, makanan Indonesia sangat terkenal di Belanda! Istilah nasi goreng, mie goreng, sate dipakai langsung di Belanda menggunakan bahasa aslinya. Bukan hanya di restoran, makanan Indonesia yang siap dimakan bisa didapat dengan mudah di supermarket.

Bahkan makanan yang lebih spesifik seperti rendang, semur ayam, dan sejenisnya bisa juga didapat di Albert Heijn, salah satu waralaba supermarket terbesar di sini. Dan istimewanya, makanan-makanan ini dikemas dalam besek! Isinya nasi putih dan lauk yang bisa dipanaskan di microwave.

Rasanya lumayan lho Rendang supermarket ini. Nggak ada rumah makan Padang ya kalau kepepet ke supermarket aja hehe. Foto: ah.nl
Awalnya geli baca kata “AJAM” (huruf J dibaca Y di bahasa Belanda), hihihi. Foto: ah.nl
Nasi dan mie goreng adalah makanan yang pasti ada di semua supermarket. Foto: ah.nl

Bumbu sate atau saus kacang adalah jenis makanan lain yang umum di Belanda. Saking sukanya orang Belanda makan pakai saus kacang, mereka punya saus instan versi Belanda yang mudah didapat di mana-mana. Penggunaan saus kacang di sini malah agak terlalu berlebihan, kalau dilihat dari kacamata saya. Contohnya makan kentang goreng pakai saus kacang. Errrr… πŸ˜†

Saus sate/saus kacang di dalam berbagai merek. Foto: landmarkt.nl

Yang khas dan yang dicinta

Ngomongin bumbu sate dan kentang, patat alias frietjes alias kentang goreng adalah snack yang ‘Belanda’ banget. Kalau dulu saya melihat french fries dimakan dengan steak atau ayam KFC saja, di sini kentang goreng dijual di kios-kios sebagai snack.

Sebenarnya sih frietjes ini duluan dikenal di Belgia. Konon orang Belgia mulai menyantap fritjes sejak 1600-an. Setelah itu trend frietjes masuk ke juga ke Belanda pada 1800-an. Sampai sekarang yang terkenal adalah kentang goreng dengan judul ‘Vlaamse Friet’ – di mana Vlaamse merujuk pada daerah Flanders, regio di Belgia.

Ngantrinya bisa lebih setengah jam! Foto: iamsterdam.com

Frietjes ini biasanya dimakan dengan mayonaise. Tapi ada juga ‘sambal ulek’ yang tersedia untuk pelanggan yang ingin pedas. Atau saus ‘oorlog‘ alias saus perang: perpaduan saus kacang dan mayonaise (east meets west), dan potongan bawang bombay! Belanda oh Belanda, seleramu, haha. 🫣

Patat met oorlog saus. Foto: panorama.nl

Frietjes adalah makanan penyelamat terutama untuk anak-anak ketika kami jalan-jalan, atau di kala Emak malas masak. Dimakan bersama gorengan lainnya seperti frikandel atau kroket, ditambah potongan timun – bolehlah sekali-kali jadi pengganti nasi kalau Mamak sedang galau. πŸ˜†

Makanan anti galau lainnya adalah pannenkoek alias pancake. Berbeda dengan American pancake yang tebal dan empuk, pannenkoek dimasak tanpa baking soda dan lebih encer adonannya. Dimasak di wajan lebar, pannenkoek bisa berdiameter 30 centimeter.

Dimakan dengan gula tepung, sirup gula, Nutella, atau es krim, atau dimasak dengan tambahan bacon, ham – semua boleh-boleh saja. Meskipun tidak ada yang namanya restoran Belanda, tapi ada restoran khusus pannenkoek yang menawarkan segala variasi rasa di dalam menunya.

Tradisi keluarga kami adalah makanan pannenkoek setiap Minggu pagi. Yummy! Foto: vettt.nl

Makanan khas Belanda yang ‘nggak banget’

Waktu saya melahirkan, saya dibantu kraamzorg – suster yang datang ke rumah seminggu pertama setelah melahirkan. Suster ini bertugas membantu ibu mengurus bayi, sekaligus mengajarkan bagaimana kita memandikan/menyusui dan sebagainya. Bukan itu saja, suster juga menolong menjaga anak-anak yang lain, membereskan rumah, berbelanja, dan… masak.

Penasaran makanan Belanda, saya minta dia untuk masak di rumah. Dia menolak! Dia tahu kalau kami biasa masakan Indonesia, dan menjawab; ‘Kamu nggak akan suka masakan saya. Bumbunya cuma garam dan lada.’

Sejak itu saya semakin tidak berminat untuk mempelajari sebenarnya makanan khas apa yang dimakan orang-orang di sini. Buat saya, makan itu harus berbumbu. Harus medok rasanya. Setelah beberapa tahun, akhirnya saya berkenalan dengan salah dua makanan khas Belanda yang saya tidak pernah coba dan tidak ingin coba πŸ˜†. Tapi dua makanan ini adalah makanan ‘kebanggaan’ mereka lho!

Yang pertama adalah haring. Haring adalah ikan mentah yang direndam di kuah cuka dan disajikan dengan potongan bawang lalu dimakan sekaligus (tanpa dipotong). Haring hanya tersedia di dalam periode tertentu: antara bulan Mei sampai Agustus. Meskipun katanya nggak sah kalau di Belanda nggak makan haring, tapi saya bahagia dengan keputusan tidak memakannya. πŸ˜†

Haring: sashimi versi Belanda. Foto: parool.nl
Makan ikan mentah, berani nggak? Foto: indebuurt.nl

Makanan tradisional lain yang tidak saya minati adalah stamppot. Stamppot dibuat dari kentang dan sayuran yang direbus, dicampur dan dihaluskan. Dibumbui mentega, garam dan lada, lalu dimakan dengan potongan sosis. Jenis sayur yang dipakai bisa macam-macam, dan biasa dimakan sebagai makan malam di musim dingin.

Sepengamatan saya, orang Belanda sangat efisien di dalam menggunakan waktu, sehingga mereka tidak suka berlama-lama di dapur seperti kita yang masakannya rumit penuh bumbu. Mungkin dengan filosofi seperti inilah stamppot lahir: praktis dan makannya pun cepat. 😁

Hutspot: salah satu variasi stamppot. Foto: lekkerensimpel.com
Bahan stamppot. Foto: aardappelgroentevlees.nl

Kebanggan Utrecht, tapi bukan dari Belanda

Dari kota tempat saya tinggal, Broodje Mario juaranya. Sebenarnya Broodje Mario ini adalah kios roti yang dijalankan sebuah keluarga Italia sejak tahun 1977, jadi bukan asli Belanda.

Rotinya sederhana saja, roti bulat diisi salami, sosis, dan acar. Selain itu mereka juga menjual pizza dan calzone. Calzone adalah pizza dengan segala isinya yang dilipat dan ditutup dengan cara dipilin ujungnya – seperti pastel ukuran raksasa dengan bahan roti dan isian pizza.

The famous Mario Broodje. Foto: broodjemario.nl

Kios Broodje Mario ada di pusat kota Utrecht, antriannya panjang, terutama di jam makan siang. Kios kecil ini sempat menjadi berita sewaktu walikota Utrecht yang baru diangkat berkomentar bahwa broodje Mario ini bukan makanan sehat.

Calzone. Foto: broodjemario.nl

Langsung saja warga meradang, sampai-sampai Sharon Dijksma sang walikota meminta maaf secara publik, dan mengunjungi kios Mario sebagai bukti penyesalannya. Haha, kekuatan warga di balik sosial media!

Sketsa karya penggemar Broodje Mario: Ellen Bruls. Foto: broodjemario.nl
Walikota Utrecht: Broodje Mario memang enak! Foto: telegraaf.nl

Penutup

Demikianlah Mamah semuanya, sekilas cerita tentang makanan yang saya jumpai di tanah rantau ini. Buat saya sendiri, Bakmie GM, putu mayang, kwetiau Pontianak, dan martabak Bangka masih jadi juaranya.😁πŸ₯°

Semoga segera bisa mudik dan menyantap mereka semua. Merdeka!

12 Thoughts on “Makanan Belanda: Yang Diadopsi, Yang Khas, Yang Tidak Disukai, dan Yang Bukan dari Belanda.

    1. Hallo Teh Meta, wah cepet banget dah mampir πŸ™‚
      Nggak, dia nggak ada cabangnya, dulu sempat ada toko lain yang namanya sama kayaknya dia tuntut biar tutup hihihi.
      Trus Italian banget, nggak mau dibayar pakai kartu, cuma mau cash – biar catatan pendapatan nggak terlalu keliatan pemerintah mereun, gak usah bayar pajak penuh haha.

  1. Dea aku terharu banget liat Rendang Padang dan Ajam Bumbu Bali dalam besek, totalitas banget itu ya.
    Soal si ikan haring, jaman kecil dulu selalu ada tu dalam buku – buku Enid Blyton, yang snacknya ginger beer dan ikan haring, ternyata gitu aja bentuknya, dulu kukira enak banget πŸ˜€

    Filosofi kita sama Dea, makanan Indonesia paling enak, aku juga kangen Bakmi GM. Kalau martabak ada yang enak disini, kokinya bekas koki San Fransisco martabak di Bandung hehe

  2. Setuju sama Teh May. Ikut bangga dan terharu lihat Rendang Padang dan Ajam Bumbu Bali dijual dalam besek di Belanda. Berikutnya mungkin Sate Ajam, lotek dan gado-gado yang akan ikut meramaikan kuliner Indonesia di Belanda. Mereka tergila-gila saus kacang kan? Sekalian tambahin baso tahu dan cilok bumbu.

    1. Wah, seru sekali ternyata ya kak.
      Ada banyak jenis makanan yang mengalami barter antara indo dan belanda.

      Baru tahu ternyata panekuk pun asalnya dari bahasa belanda

  3. pannenkoek ini biasa disebut kiping sama orang Bangka, biasanya kami kasih toping meises atau gula pasir. Tapi kalo di Palembang, dimakan denagn cuka donkkk….

  4. Waktu itu pernah baca salah satu tulisan Dea yang menginformasikan bahwa orang Belanda doyan banget saus kacang (sausnya sate) ahahaha, sampai-sampai makan apapun pake itu ya. Ehh di tulisan ini ada yang lebih mengejutkan lagi, saus kacangnya dicampur mayonneise, wadawww, kok sudah mundur duluan saha mau nyobainnya ahahaha. Tetapi ya namanya preference lidah siy ya.

    Kastangel kayak pentungan?? Ahahaha, kebayang super kenyangnya, kalau pas lebaran aja, nyomot satu biji kastangel sudah cukup mblengerr, apalagi yang sampai 30 cm. Ahh tapi lagi-lagi itu selera lidah masing-masing sih ya.

    Kok sama kayak Mamahs lain ya, ku tersepona dengan packaging beseknya! Khas Indonesia banget, produsennya all out ya. πŸ™‚

  5. Ketawa baca captionnya walikota yang bilang Broodje Mario memang enak!
    Enak memang tidak selalu sehat sih ya!… Hahahaha…

  6. Ternyata makanan Indonesia emang juara ya teh. Suka banget packaging besek itu. Aku suka baca insight begini, menarik dan unik

  7. Kapan2 mau coba ah makan kentang goreng pake bumbu sate. Kayanya sih enak-enak aja. Hehe.. Kalau hutspot saya sering makan teh, nenek dan mama saya suka masak ini. Memang rasanya biasa aja sih, kentang nyaris hancur dicampur sayuran, tapi memorinya yang bikin berkesan karena seringnya dimakan bareng sama sepupu2 pas lagi kumpul keluarga besar.

  8. Aduuuuuh aku ngiler bangeeet sama semua makanannya, kayaknya enak-enak (kecuali haring hahaha). Amazed juga ya ternyata makanan Indonesia cukup gampang ditemui di sana. Eh tapi pas aku ke Italy juga pernah lihat nasi goreng dijual di supermarket dan literally ditulis β€œnasi goreng”. Jadi mayan ngobatin rindu sih ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *