Enak mana, tinggal di Indonesia, atau tinggal di luar negeri? Pasti lebih enak di luar negeri ya?
Pertanyaan ini kerap keluar di percakapan dengan orang-orang yang baru tahu kalau saya ini seorang perantau. Jawaban saya untuk pertanyaan ini selalu sama: buat saya, semua tempat pasti ada positif dan negatifnya.
Terpilih untuk menjadi perantau
Table of Contents
Bisa dibilang, saya tidak ‘memilih’ untuk menjadi perantau. Sepupu saya pasti geleng-geleng kepala membaca kalimat ini, karena menurutnya (dan dia benar), hidup ini adalah rangkaian pilihan dan keputusan.
Maksud saya berkata begitu adalah, saya tidak pernah bercita-cita menjadi perantau. Waktu saya masih kecil, saya tidak punya bayangan atau harapan untuk tinggal di luar Jakarta, jauh dari orangtua dan keluarga. Apalagi pikiran untuk tinggal di luar Indonesia, benar-benar di luar bayangan. Mungkin saya pernah membayangkan untuk mengunjungi Eropa, untuk studi, tugas kantor, atau berwisata, tapi tidak untuk tinggal dalam jangka lama.
Tapi waktu saya selesai kuliah di Bandung dan kembali ke rumah orangtua saya di Jakarta, saya sempat punya firasat bahwa saya tidak akan lama lagi tinggal di dekat mereka. Entah kenapa waktu itu saya berpikir demikian, padahal waktu itu tidak ada rencana untuk pergi dari rumah.
Kota Kembang, awal segalanya
Pertama kali saya melangkahkan kaki keluar rumah untuk tinggal di tempat lain selain rumah orangtua adalah ketika saya berkuliah di Bandung. Waktu itu, saya tidak menyangka kalau saya akan kuliah di luar Jakarta. Belasan tahun saya membayangkan akan menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran UI, mengenakan rok dan jas putih, berjalan di koridor RSCM sebagai koas. Tapi ketika orangtua saya tiba-tiba melarang saya memilih jurusan Kedokteran, saya pun banting setir memilih kampus yang saya kenali sejak kecil – almamater ayah saya.
Bandung bukanlah kota yang asing, saya lahir dan sempat dibesarkan di sana. Keluarga besar dari pihak Mama juga tinggal di Bandung, jadi konsep ‘pulang kampung’ keluarga kami adalah ke Bandung. Orangtua saya mengiringi saya untuk memilih tempat kost, menyiapkan semua yang saya butuhkan supaya bisa hidup dan belajar dengan baik. Meskipun terpisah dari keluarga, saya tidak belajar terlalu banyak tentang kehidupan di sana. Fasilitas dan uang yang masih dijamin oleh orangtua membuat masa perantauan di Bandung hanya terlihat sebagai ‘ekstensi’ dari rumah.
Merantau ke kota Singa
Setelah tujuh tahun tinggal di Bandung, saya pulang ke Jakarta. Waktu itu saya sudah bekerja di kantor konsultan milik seorang dosen, tapi karena ayah saya sakit, saya memutuskan untuk kembali tinggal bersama mereka. Tiga tahun saya tinggal dan bekerja di Jakarta, sampai saya tiba-tiba tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki – saya ‘ lumpuh’.
Entah kena virus apa yang menyerang syaraf, kaki, lengan, dan tangan saya tidak bisa digerakkan selama beberapa bulan. Cuti sakit pun berubah menjadi pemutusan hubungan kerja – ya, siapa juga yang mau mempekerjakan seorang arsitek yang tidak bisa menggunakan tangannya?
Setelah beberapa bulan, saya pun berangsur pulih. Tangan dan kaki saya masih lemas dan perlu diistirahatkan setiap beberapa jam supaya bisa digunakan kembali, tapi saya mau melamar ke mana lagi? Setelah dikeluarkan oleh salah satu perusahaan arsitek ternama di Jakarta, saya benar-benar tidak punya ide harus bekerja di mana. Mau bekerja sebagai arsitek tampak tidak mungkin lagi. Bagaimana saya bisa lembur di kantor sampai jam 2 pagi dengan kesehatan seperti ini?
Saat itu, ada beberapa pegawai kantor saya yang sudah migrasi ke Singapura. Seorang teman baik saya pun melamar ke sana dan diterima. Dan menjawab kegalauan saya tentang harus bekerja di mana, dia pun mengusul, “Coba melamar ke sini saja, di sini sekarang sedang ada banyak lowongan!”
Leaving on the jet plan
Dalam kebingungan karena sudah beberapa bulan menganggur, saya pun mengumpulkan keberanian untuk mengirimkan surat lamaran dan porftolio ke beberapa perusahaan di Singapura. Tidak terduga, dalam dua hari saya mendapatkan empat atau lima panggilan untuk wawancara! Minggu itu juga saya berangkat ke Singapura, bukan hanya untuk wawancara, tapi untuk mengadu nasib.
Berbekal satu koper besar penuh pakaian, tabungan terakhir berjumlah 1000 Singapore dollar, saya berencana untuk tinggal selama minimal satu bulan di Singapura, mengoptimalkan ijin visa. Kalau orang lain bisa pulang lagi ke Indonesia jika tidak diterima kerja, saya berencana untuk tetap tinggal mencari pekerjaan sampai dapat sampai visanya habis.
Sepertinya memang saya ‘dipilih’ untuk merantau lebih jauh, karena di hari kedua saya tiba di Singapura, saya pergi wawancara di sebuah konsultan arsitektur yang cukup besar di sana, dan diterima. Bukan itu saja, saya pun diminta untuk langsung mulai bekerja di hari Senin berikutnya. Jadi hanya dalam waktu satu minggu sejak saya mengirimkan lamaran, saya mulai kerja di negeri orang!
Hidup sebagai perantau di Singapura terasa seperti naik tingkat dibanding masa kuliah di Bandung. Uang pas-pasan, langsung masuk kerja dan menggunakan bahasa Inggris, tidak ada sanak keluarga, dan kesehatan yang masih mengkuatirkan – rasanya seperti masuk ke sebuah pintu di game Mario Bros dan tiba-tiba terlempar ke dunia lain. Saya masih ingat perasaan haru biru di sebuah Kamis di bulan November 2006, masuk ke dalam pesawat sendirian, I’m leaving on the jet plane! Ini benar-benar kali pertama saya pernah ke luar negeri, untuk hari Senin minggu depannya mulai bekerja di perusahaan asing!
Selama 4 tahun tinggal di Singapura, saya belajar arti kemandirian yang sesungguhnya. Bekerja dan memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa didukung lagi oleh orangtua, menyeimbangkan kehidupan pribadi dan kehidupan sosial, menjaga supaya tidak sering sakit seperti dulu, dan menemukan Tuhan kembali di dalam kesendirain. Pengalaman yang paling berharga selama tinggal di sana adalah menemukan tempat berbakti di mana saya belajar mengenal Tuhan lebih dalam.
Advanced level: pindah benua
Sekali lagi, saya ini tidak ‘memilih’ untuk merantau, sebaliknya saya dipilih untuk pergi lebih jauh lagi. Di akhir tahun ke-4, saya bertemu dengan Pak Suami di udara. Diawali dengan drama sakit keras yang membuat saya mengevaluasi hubungan saya dengan Tuhan, dengan diri sendiri dan dengan sesama.
Karena saya sadar saya pernah menyakiti hati beberapa orang, saya memutuskan untuk menulis surat pada orang-orang yang saya sakiti. Salah satunya yang terpikir adalah Pak Suami. Saya pun segera mencari informasi tentang keberadaan beliau, dan mengirimkan email berisi permintaan maaf.
Singkat cerita, ternyata Pak Suami tinggal di Eropa, dan email saya beranak bercucu sampai sebulan kemudian kami memutuskan untuk bertemu di Indonesia. Di dalam pertemuan kami yang pertama setelah 13 tahun berpisah, kami menyadari kalau he’s the one, and I’m his one, dan 6 bulan kemudian kami pun menikah dan saya diboyong ke negeri Belanda.
Menikah, merantau, membesarkan anak
Kalau saya merenungkan perjalanan hidup saya, saya menyimpulkan kalau saya ini ‘dipaksa’ belajar dewasa ketika saya merantau – tiap kali lebih jauh dari rumah. Sebagai anak bungsu yang sering sakit dan selalu dijaga ketat oleh orangtua, di tanah rantau lah saya belajar untuk bertanggungjawab atas keselamatan dan kesehatan diri sendiri. Dan ketika saya menikah, untuk keselamatan dan kesehatan pasangan saya. Waktu kami dikaruniai Tuhan anak-anak, 2 anak dengan perbedaan umur yang tipis, saya belajar bahwa saya tidak bisa hidup sembarangan, ada 2 manusia yang masih helpless yang butuh untuk saya lindungi, bimbing, dan besarkan.
Dan bahwa kami tinggal begitu jauh dari orangtua dan sanak keluarga, membuat semuanya ekstra, karena harus dikerjakan sendirian. Tidak ada pembantu, babysitter, kakek atau nenek untuk dititipi anak-anak. Tidak ada warung untuk membeli makanan kalau malas masak. Tidak ada tempat buang kesah dan lelah, tidak ada me time buat kabur kemanapun (kecuali kalau sedang diopname di rumah sakit) karena ‘paket’ yang tidak bisa lepas ini.
Kami berdua belajar untuk mengatasi semua kesulitan semandiri mungkin. Beruntung kami dimampukan Tuhan untuk mendatangkan orangtua ketika saya melahirkan si Sulung, dan ketika saya harus beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit. Tapi ada kalanya semua krisis benar-benar harus dilalui sendirian, terutama setelah Corona menyerang.
Biaya hidup yang tinggi membuat saya belajar berhemat, terampil mengerjakan hal-hal yang biasanya dipercayakan pada orang lain yang bisa dibayar – seperti memasang tegel di taman, kreatif mengolah makanan sisa kemarin menjadi hidangan hari ini, pintar mencari diskon supaya uang belanja bisa dioptimalkan.

Tinggal di rantau membuat saya belajar untuk tidak malu menerima baju bekas orang lain untuk anak-anak, tidak segan belanja di toko barang bekas, dan bahkan tidak malu untuk mencari pekerjaan yang dianggap orang sebagai pekerjaan kasar di restoran.
Tinggal di rantau membuat saya tidak takut untuk mengejar mimpi padahal sudah di usia jelang lima puluh tahun. Masuk sekolah setingkat D3 dan menjadi asisten guru, dan kalau Tuhan mengijinkan, tahun ajaran depan meneruskan sekolah untuk meraih Sarjana Pendidikan. Juggling antara sekolah, kerja, dan mengurus keluarga.
Di rantau saya belajar artinya rindu, hancurnya hati ketika tidak bisa dekat dengan orang-orang kesayangan ketika mereka mulai menua dan sakit. Belajar menerima pahitnya kenyataan dan mengenal batas kemampuan – mengusahakan dan melakukan yang terbaik untuk orang lain, tapi juga tetap waras dan tidak membahayakan diri sendiri.
Penutup
Merantau – terpaksa merantau tepatnya, adalah masa sekolah kehidupan yang panjang yang membuat saya yang manja dan tergantung pada orang lain akhirnya dewasa. Buat saya, tidak masalah di kota atau negara mana saya berada. Tiap tempat menyediakan masalah, dan pelajarannya sendiri. Pertanyaannya adalah: apakah kamu mau belajar dan bertumbuh menjadi dewasa?
Tulisan ini dibuat untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari tahun 2026.

