Efek Samping Perang: Pengetatan Ikat Pinggang

Hari ini jadual saya penuh sekali. Pagi-pagi harus ke sekolah bahasa, dan kali ini berangkat lebih pagi karena ada teman satu kelas yang mau menumpang mobil ke sekolah. Setelah selesai les, saya buru-buru pergi ke tempat kerja. Hari ini matahari bersinar sangat silau – membuat saya pusing. Untungnya anak-anak kelas saya bersikap baik hari ini.

Sore ini saya benar-benar tidak mood untuk masak. Sungguh nggak mood masak! Hari ini penuh, kemarin penuh, kemarinnya lagi penuh. Saya cuma ingin leyeh-leyeh, makan enak (tanpa masak dan tanpa cuci piring), dan tidur. Membayangkan harus puluhan menit berdiri di dapur membuat saya seperti bunga yang layu sebelum berkembang.

Tapi di sini nggak ada gojek, gofood dan go-go lainnya. Eh ada sih deliveroo – ya semacam gofood gitu lah ya. Tapi bayangin berapa Euro harus keluar rasanya membuat kepala pening. Meskipun resah gelisah karena jiwa memberontak tidak ingin masak, saya pun beranjak ke dapur.

Rusia vs Ukraina dan kenaikan harga

Kemarin saya sudah bercerita tentang hilangnya minyak bunga matahari dari pasaran akibat perang antara Rusia dan Ukraina. Selain urusan minyak, ada barang-barang lain yang sejatinya diimpor dari Rusia dan/atau Ukraina yang juga mengalami kelangkaan. Misalnya tepung terigu. Atau bensin dan gas.

Sebagian suplai gas bumi yang dipakai oleh Belanda untuk penghangat ruangan, air hangat di dapur/kamar mandi dan lainnya didatangkan dari Rusia. Kota tempat saya tinggal dan beberapa kota di sekitarnya sekarang ini sedang mengusahakan untuk mengalihkan kontrak penyediaan gas mereka dari perusahaan Rusia kepada perusahaan dari negara lain atas dasar solidaritas untuk Ukraina.

Begitu juga dengan bensin, meskipun sumber bensin bukan notabene dari Rusia/Ukraina, harga bensin menjolak tinggi sejak perang berlangsung beberapa minggu yang lalu. Yang tadinya kita biasa membeli satu liter bensin sekitar 1.7 Euro sekarang naik menjadi hampir 2.3 Euro. Hampir 40% kenaikan!

Rekening gas yang sudah fantastis menjadi lebih mengagumkan lagi. Satu rumah bisa harus membayar hampir 300 Euro perbulan hanya untuk gas saja, belum lagi air dan listrik. Harga barang-barang lain pun mengalami kenaikan. Emak-emak pun mulai mengeluh di sosmed dan menjerit dalam hati. Mau tidak mau, kita harus mengetatkan ikat pinggang!

Berhemat yuk!

Di tulisan ini saya mau berbagi cara-cara yang saya pakai untuk berhemat. Karena saya adalah menteri ekonomi di rumah, sementara penghasilan datang hanya dari satu sumber (baca: gaji suami, red.), jadi saya dituntut untuk pintar-pintar mengatur supaya penghasilan yang datang setiap tanggal 22 itu bisa cukup sampai tanggal 22 di bulan berikutnya.

Suami saya sih tidak pernah pelit dalam urusan uang. Saya mau apa saja boleh. Saya sedang malas masak, yuk makan di luar (beliau bahasa cintanya adalah makanan πŸ˜…). Semua gaji diserahkan 100 persen kepada saya. Masyalahnya, gajinya sih tidak kurang, tapi kalau mau dipakai secara foya-foya ya jadi minus juga. 

Dua bulan lalu, sebagai usaha untuk meyakinkan beliau kalau makan di luar itu berbahaya (bagi dompet), saya meng-install sebuah aplikasi pencatat pengeluaran harian. Kapan-kapan saya tulis ya di sini review-nya. Hasilnya? Setelah lelah mencatat setiap pengeluaran, persis sampai ke sen-sennya, ternyata bulan itu kami MINUS sekitar 200 Euro. Besar pasak daripada tiang! Wadaaawww, kapal hampir karam!πŸ˜†

Sejak itu Pak Suami pun lebih mudah untuk diyakinkan kalau nyonya-nya bukan pelit, bukan irit, bukan ingin cepat jadi sultan, tapi realistis πŸ˜…. Jadi, mari simak jurus-jurus non sakti asal survive yang saya bagikan di sini supaya budget bulanan (di rumah kami) bisa :

Makan di luar vs makan di rumah

Belanda bukan negara yang price-friendly untuk urusan makan di luar. Makan di luar versi β€˜biasa-biasa’ saja membutuhkan paling tidak 5 Euro untuk satu orangnya. Itu cuma makan sekelas makan sandwich ya 😝. Kalau mau makan yang β€˜bener’ di restoran cepat saji dan sekelasnya sekitar 8 – 10 Euro per orang. Jadi, kalau kita makan di luar satu keluarga, minimal akan keluar 30 Euro. Itu pun sudah diirit-irit mesan makanannya.

Sesekali makan di luar boleh saja, tapi kalau sering? Gambar: Menu Restoran Piero’s di Utrecht.

Nah, coba kita bandingkan dengan makan di rumah. Setelah saya menghitung berapa pemasukan dan berapa pengeluaran sebulan, saya menganggarkan 450 Euro untuk biaya belanja selama sebulan. Tujuh juta rupiah hanya untuk belanja dapur!!!! Mewah banget!

Well, nggak juga. 450 Euro itu kalau dibagi 30 hari jadi 15 Euro sehari. 15 Euro untuk 4 orang, 3 kali makan. Kalau dibagi, itu artinya satu porsi untuk satu orang dihargai 1 Euro dan 25 cent sekali makan. Nah, kalau dibandingkan dengan harga satu kali makan sandwich di luar saja 4 euro, sudah murah sekali kan?

Dengan senyum penuh kemenangan (dan mata mendelik haha) saya menunjukkan kepada suami saya kalkulasi tersebut. β€œCoba sayang kamu bayangkan, bagaimana aku menyulap kalian bisa makan hanya 1 Euro setiap porsinya, dibandingkan berapa Euro yang kita keluarkan bila kita makan di rumah. Bukankah istrimu ini adalah istri ajaib?” *catatan: 450 Euro uang belanja itu bukan cuma untuk belanja dapur, tapi termasuk juga membeli sabun, tissue, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Tabel perkiraan harga makanan perorang dalam sehari. Menurut tabel ini, keluarga saya membutuhkan budget 24,22 Euro per hari untuk makanan. Dihitung perbulan menjadi 725 Euro. Sumber data: nibud.nl

Makan di rumah adalah jawaban dari segala pertanyaan dan kegalauan soal keuangan di rumah kami. Tapi tentu saja kadang-kadang kami makan di luar juga meskipun tidak terlalu sering, dan tidak mengunjungi restoran yang kelasnya fine dining (itu ratenya lain lagi, haha).

Selain makan di rumah, kami juga membawa bekal bila sedang bepergian. Termasuk Pak Suami bila dia pergi ke kantor, atau ketika kami berjalan-jalan mengunjungi taman bermain atau museum. 

Dulu sih rasanya risih gitu ya bawa-bawa roti trus duduk-duduk di pinggir taman. Kok kesannya susah banget. Tapi ternyata orang Belanda sendiri seperti itu. Mereka malah lebih parah lagi. Bukan hanya cuma bawa roti, tapi mereka bawa roti yang masih dibungkus (baru beli di supermarket), bawa mentega, bawa isi rotinya (keju, meses, ham atau apapun itu), dan dioles di tempat! Hahaha. πŸ˜†

Memburu korting alias diskon

Sekilas info, korting itu bahasa Belanda lho. Artinya ya pengurangan harga. Yang unik dari supermarket di Belanda adalah setiap minggu mereka PASTI mengeluarkan brosur berisi barang-barang yang dikorting.

β€˜Beli SATU dapat DUA’, atau β€˜Barang kedua setengah harga’ adalah jargon-jargon yang dipakai supermarket ketika memberikan kortingan barang-barangnya. Artinya, kalau saya beli satu roti, dapat satu roti lagi gratis. Atau kalau satu roti harganya satu Euro, roti kedua saya bayar 50 cent saja.

Tiap supermarket menawarkan list barang yang berbeda dengan supermarket lainnya. Tapi rata-rata, barang yang di-korting itu akan berulang. Misalnya minggu ini deterjen cuci dijual setengah harga di supermarket A tapi saya tidak sempat beli. Ya, tunggu saja, beberapa minggu lagi pasti akan ada korting serupa muncul di supermarket lain. Atau dua bulan lagi di supermarket yang sama.

Dengan sistem ini, saya (dan seluruh orang yang tinggal di Belanda kayaknya πŸ˜…), hanya membeli barang-barang tertentu kalau mereka sedang di-korting. Misalnya saya membeli vitamin hanya waktu lagi korting 1+1. Membeli sabun cuci ketika sedang korting β€˜2nd item is free’. Dan lain semacamnya.

2e gratis artinya barang kedua gratis, alias beli satu dapat dua, atau korting 50 persen (tapi harus ambil dua barang). Gambar: dari brosur korting supermarket Albert Heijn minggu ini.

Tentunya hal ini tidak bisa dipraktekkan untuk urusan beli roti, susu, dan kebutuhan yang setiap hari harus ada ya. Tapi ya sebisa mungkin diakali. Misalnya minggu ini buah yang sedang korting itu apel, ya minggu ini makannya apel. Minggu depan yang korting itu anggur, ya minggu depan anggur. Haha, pokoknya apa yang kita makan dan beli, menyesuaikan korting!

Hemat energi

Untuk urusan ini saya masih belum bisa melakukan tindakan penghematan energi yang signifikan. Anak-anak masih suka lupa mematikan lampu kalau mereka meninggalkan ruangan dan Pak Suami tak mampu tanpa menyalakan penghangat ruangan.

Sejatinya, orang-orang di Belanda hanya menyalakan penghangat ruangan sebentar saja lalu mematikannya. Supaya tidak kedinginan, mereka mengenakan baju tebal di dalam rumah, bahkan sepatu juga! – supaya bisa mengurangi pemakaian gas.

Harga bensin yang melonjak membuat banyak orang kebingungan. Bahkan ada orang-orang yang kabur tanpa membayar setelah mengisi bensin. Banyak orang yang kembali menggunakan sepeda untuk jarak yang bisa ditempuh dengan sepeda. Tapi sayangnya sekolah anak-anak terlalu jauh untuk dijangkau dengan sepeda, jadi kami berdamai saja dengan urusan bensin ini.

Persoalan transportasi memang agak dilematis di Belanda karena transportasi umum seperti bis dan kereta sangat mahal harganya. Sebagai contoh, dari rumah saya sampai ke Amsterdam ongkos yang dikeluarkan satu orang adalah sekitar 20 Euro. Dikali empat orang, 80 Euro untuk sekali jalan-jalan. Satu juta rupiah hanya untuk ongkos, dan rumah saya ke Amsterdam itu hanya 40 menit naik mobil lho. Hanya 40 kilometer saja.

Akhirnya memang kalau pergi sekeluarga, naik mobil sendiri memang merupakan pilihan yang lebih menarik. Meskipun di sisi lain harus pintar-pintar juga mencari tempat parkir karena parkir di tengah kota pun bisa selangit harganya. 🀣

Kami sering mengakalinya dengan cara parkir di zona lain yang lebih murah atau bahkan gratis, meskipun itu artinya harus berjalan kaki beberapa belas menit sampai ke tujuan.

Membeli barang bekas

Satu hal yang saya pelajari untuk tidak perlu sungkan untuk dilakukan adalah membeli barang 2nd hand dibandingkan membeli barang baru. Orang Belanda sangat apik merawat barang-barang mereka, barang-barang yang kita beli di kringloop atau melalui Internet biasanya masih sangat bagus kondisinya.

Selain ingin berhemat, hal ini saya lakukan juga dengan kesadaran bahwa semakin banyak barang yang kita gunakan lalu buang, semakin penuh bumi kita dengan sampah. Kita bisa membantu menjaga kelestarian alam dengan cara memperpanjang usia penggunaan barang. Jangan buang barang yang belum rusak, tapi gunakan lagi atau diperbaharui supaya tidak hanya menjadi timbunan sampah (landfill) saja.

Begitu juga dengan urusan membeli barang-barang yang tidak perlu. Tahun-tahun pertama menikah, rasanya gampang sekali membeli barang-barang yang lucu yang saya temukan di toko. Padahal sih tidak benar-benar butuh. Ternyata sejalan dengan waktu, barang-barang ini menjadi tumpukan yang menganggu di rumah, yang akhirnya harus dibuang/diberikan ke orang atau dijual kembali. Akhirnya saya belajar untuk lebih disiplin di dalam menahan diri. Setiap kali melihat cangkir yang lucu atau mangkok yang bagus, saya berpikir tentang rumah yang penuh dan sedihnya hati bila harus membuang barang yang tidak dipakai.

Mengajari anak-anak tentang nilai uang

Berhemat harus dilakukan sebagai keluarga. Tidak mungkin hanya satu orang dalam keluarga yang mati-matian berusaha bijaksana di dalam mengatur keungan sementara anggota keluarga lainnya hura-hura. Perlu ada transpransi di dalam masalah finansial antara suami dan istri, bahkan juga dengan anak-anak (meskipun mereka tidak perlu tahu detailnya).

Mencatat pengeluaran secara terinci merupakan cara yang mudah dan efektif untuk mengajak pasangan membuat rencana finansial. Karena ada ‘bukti nyata’, semua pihak menjadi mudah untuk melihat apa yang terjadi dan bersama-sama mengatur agar ada improvement di dalam cara mengatur keuangan keluarga. Di antara suami dan istri harus ada kesepakatan tentang lifestyle keluarga dan pengeluarannya.

Anak-anak saya sendiri saya ajari tentang berhemat sejak dini. Saya bukan ibu yang pelit, tapi juga bukan ibu yang menyerah setiap kali mereka menangis di lorong kassa meminta dibelikan surprise egg. 😁 Setiap ikut belanja, mereka boleh memilih snack atau makanan yang mereka mau. Tapi kalau di lorong berikutnya mereka melihat sesuatu dan menginginkannya, anak-anak harus memilih, hari itu mereka mau beli yang mana, tidak bisa beli semuanya.

Mereka juga belajar untuk menahan diri tidak langsung membeli sesuatu kalau sesuatu itu masih ada di rumah, belum habis (makanan), atau belum rusak (mainan/barang lainnya). Kami juga mengajarkan mereka untuk tidak tergoda membeli atribut-atribut di game online yang harus dibayar dengan uang.

Penutup

Yang jelas, hidup itu harus tetap dinikmati. Jangan karena berhemat jadi tidak bisa bahagia, tapi juga tidak perlu bahagia dengan cara pura-pura jadi sultan kalau memang belum punya istana. Kalau teman-teman sendiri gimana cara berhematnya?

5 Thoughts on “Efek Samping Perang: Pengetatan Ikat Pinggang

  1. Hua Dea mahal banget ya, aku tahu soal makan di luar mahal, tapi ga nyangka bensin dan gas juga mahal. Tadi ku konversi pengeluaran gas Dea sebulan itu sekitar 1300 an RM ..mahal banget ya, belum listrik..udah bener sih, Dea memang istri ajaib.

    Kalau di sini air, listrik bensin relatif murah, apalagi aku sekarang bukan tinggal di pusat kota, jadi banyak subsidi dari pemerintah. Listrikku sebulan 400 an RM aja, atau 86 Euro, bensin paling mahal hanya 2 RM atau 0.43 Euro..jauh banget kan.

    Caraku berhemat mirip dengan Dea untuk soal belanja, ada satu supermarket disini yang suka diskon fresh produces 50 % kalau display udah lewat dari 2 hari, nah jadinya aku selalu kesana haha. Barangnya juga masih ok, kan displaynya juga di refrigerator. Kemaren tuh kocak banget, aku udah mau ambil 2 pax daging diskon 50 % kan, eh kalah cepet tangannta ama kakek2 haha.

    Semoga cepat mereda konflik ini ya, peace and love.

    1. Hallo May.. hahaha aku belum selesai banget post-nya udah dikomen duluan. Gercep abis 😁

      Iyaaaa pada dasarnya emang hidup di Eropa mahal, makanya suka salting kalau dianggap orang kayak sultan hahha padahal kita gak bisa deh bayar lifestyle yang dilakukan orang-orang di Indonesia di sini. Padahal gaji suamiku bukannya kecil banget lho (gak gede banget tapi juga nggak kecil), tapi ya emang semua mahal banget di sini. Eh perang pula, jadi aja makin aneh harga-harganya 😝

      Hihi berarti kita sama ya, emak-emak pemburu diskon. Untungnya di sini supermarket yang ngasih diskon itu hampir semua merek supermarket jadi ya nunggu-nunggu aja. Di sini juga sama kalau udah hari -H dia habis masa segarnya, suka didiskon 30%. Itu juga aku suka ambil, hahhaa…

      Makasih May udah mampir dan bagi cerita berhematnya 😘

  2. Sebenarnya, tinggal di Asia itu menyenangkan bagian banyak delivery melimpah ruah, harga pun bersaing, tapi jajan tiap hari pastinya lebih boros daripada masak sendiri. Emang ya perang ataupun nggak kita perlu belajar hemat dan ngajarin anak hemat biar ke depannya nggak terjebak konsumerisme yg makin penuh bujuk rayu.

  3. Aku pikir featured image nya itu iklan. Jadi sempat mikir teh Dea blognya dimasukin iklan toh. Eh ternyata contoh brosur dapat bonus barang ya :))

    Jadi ibu kalau bisa berhemat memang ada kebanggaan sendiri. Disini kayanya bangga banget bisa dapat barang lebih murah 5 ribu aja.

    Wah disana gas mahal, disini minyak goreng. Currently daging sapi lg mahal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *