Tantangan Menulis KLIP

Halo semua, apakah sehat semua? Semoga kita semua diberikan kesehatan ya oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Di tengah situasi genting seperti ini, baru kita sadari bahwa kesehatan itu adalah sesuatu yang sangat sangat sangat berharga.

Kita semua sangat bersyukur kalau masih diberikan kesehatan fisik di masa Corona ini. Tapi kita juga jangan lupa menjaga kesehatan mental. Dan di era informasi ini kita perlu juga punya kemampuan untuk menyaring informasi. Kritis dalam membaca, membaca apa yang kita perlu, bagaimana caranya?

Sebagai jawaban atas Tantangan Menulis dari KLIP periode 12 – 18 Juli 2021 dengan Tema: Caraku memilah dan memilih informasi, saya mencoba membagikan pemikiran saya akan hal ini.

Tema Tantangan Menulis

Kenyang dengan segigit kue

Jaman sekarang, banyak orang menemukan inspirasi dan semangat dari kutipan-kutipan yang indah dan bijaksana.

Saya punya seorang saudara laki-laki yang sangat suka membaca. Dia punya satu lemari besar berisi buku-buku pengembangan diri, yang bukan hanya dijadikan pajangan, tapi juga dibaca semuanya. Karena cintanya pada saya – sang adik yang pemalas, beliau sering menganjurkan (dan memerintahkan) saya ikut membaca buku-bukunya. Meskipun malas, saya sempat membaca juga beberapa buku miliknya.

Beberapa tahun kemudian, muncullah fenomena ‘motivator’ di media Indonesia. Salah satu yang saya ingat adalah seorang bapak yang sangat piawai dalam merangkai kata-kata motivasi yang indah. Wah, banyak sekali followernya. Ramai timeline sosial media saya oleh teman-teman yang membagikan postingan bapak ini.

Yuk gali semua ilmunya, jangan berhenti di quotes-nya saja

Penasaran, saya ikut membaca beberapa tulisan beliau. Dan juga membaca komentar para fans yang memuja sang bapak sebagai tokoh super bijaksana… Tergelitik rasanya melihat kekaguman para fans ini. Banyak dari mereka adalah die-hard fans yang mati-matian membela pahlawannya.

Saya lihat, yang si bapak bicarakan itu sudah pernah saya baca di banyak buku milik abang saya. What’s so new about it? He didn’t even invent those sayings. I bet he quoted them from books he read!

Mengutip tanpa membaca

Saya bertanya dalam hati, apakah para pemuja ini pernah membaca tuntas buku si bapak? Atau pernah membaca buku yang dikutip oleh si bapak? Jangan-jangan kebanyakan hanya puas dari sepotong kalimat di sebuah status Facebook saja. Dan perlukah memuja sampai sebegitunya? Toh pada akhirnya si bapak itu hanyalah seorang manusia biasa?

Banyak orang yang merasa kenyang setelah makan satu gigit kue. Mereka merasa puas setelah mendapat ‘sepotong pesan’ dari TV atau media sosial. Membaca seluruh bukunya? Wah itu butuh terlalu banyak usaha. Toh dengan menerima dan mengamalkan kutipan-kutipannya saja kita bisa menjadi lebih baik?

Mengutip lalu broadcast

Yang lebih repot, sudah hanya mengutip dan tidak membaca seluruh buku sumber kutipan itu, kita juga senang broadcast. Generasi broadcast. Semua bisa dan perlu dijadikan konten.

Yang terjadi adalah banyak beredarnya informasi yang simpang siur dan setengah-setengah. Sedikit kutipan (padahal sering keluar dari konteks isi tulisan secara keseluruhan) dan dibumbui detail yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, lalu dijadikan tulisan dan dishare di segala penjuru mata angin.

Saya tipe orang yang memilih tidak ikutan di dalam perang komentar, apalagi yang topiknya adalah agama. Jangankan berkomentar, membaca saja malas. Kenapa malas? Karena biasanya para pejuang keyboard itu akan membela argumennya dengan mengutip sana sini. Mengutip kitab yang bahkan mereka belum pernah pegang ataupun buka.

Paling prihatin melihat posting atau komentar soal budaya, agama, atau kebiasaan kaum yang berbeda, dengan cara mengutip atau mengklaim info yang salah dan dengan garang menyebarkannya. Itulah mengapa, budaya mengutip tanpa membaca itu sebenarnya bisa jadi berbahaya. Bukannya menyebarkan kebenaran, alih-alih kita akan menyesatkan orang.

Memilah dan memilih tulisan

Kita harus sadar, tidak semua tulisan layak dan perlu dibaca. Perlu sebuah keterampilan untuk memilih yang mana yang perlu dibaca dan dipelajari. Tidak semua buku itu baik, tidak semua tulisan di internet itu valid.

Kredibilitas sumber informasi

“Inilah alasan sesungguhnya di balik perceraian AA dan BB.” Penasaran kenapa mereka bercerai, saya klik beritanya. Setengah mati berjuang scanning di antara deretan iklan untuk menemukan apa sih penyebab mereka bercerai, tetap saja tidak ketemu jawabannya.

Kalimat sang penulis muter-muter dan diulang-ulang dari awal sampai akhir. Pada akhirnya saya sadar bahwa isi artikel ini sama persis dengan artikel yang tayang 30 menit sebelumnya, yang berjudul, “AA menggugat cerai BB.” Nah lo, percuma kan klak klik berkali-kali?

Buat saya, website semacam ini ya sebaiknya dilewatkan saja. Kita tidak bisa memancing ikan hiu dari tengah sawah. Ditunggu berapa lama tetap saja hiunya gak pernah lewat di antara katak dan tikus tanah. Kalau mau cari tulisan yang bermutu, cari website yang bermutu, informatif dan tidak mengandalkan judul yang bombastis, dan dihujani iklan setiap dua baris.

Mutu dan muatan sang penulis

Sama seperti memilih website, kita pun perlu bijaksana dalam memilih buku (atau tulisan lain secara umum). Yang sering saya lakukan adalah mengecek siapa penulisnya. Sedikit bantuan dari oom Google bisa membuat saya menemukan siapa penulis, latar belakangnya, pendidikannya, dan lain sebagainya.

Setiap penulis memiliki muatan dan misi dalam buku yang diciptakannya. Banyak baca review yang ditulis tentang sebuah buku juga membantu dalam menentukan kemana arah si penulis dan apakah tulisannya baik atau tidak.

Latar belakang pendidikan dan pengalaman pekerjaan juga bisa menjadi sebuah ‘clue’ dalam menentukan apakah sebuah berita/tulisan itu layak dipercaya, meskipun ya tidak selalu begitu ya.

Belakangan ada seorang dokter yang ngetop di Indonesia dengan teori Covidnya. Penasaran saya google dia dan lihat latar belakang pendidikannya. Setelah tahu, saya tutup halamannya, dan berkata, ya sudahlah…

Bermanfaat atau menjerat

Semua bisa didapat, tapi tidak semua bermanfaat. Apakah informasi ini berguna untuk diri kita, atau menjerat kita di dalam kekuatiran, ketakutan, kebencian dan hal-hal negatif lainnya?

Di awal pandemi Corona ini, hampir tiap hari saya memantau statistik penderita Covid di Indonesia dan di Belanda. Tetapi lama-lama mulai dari hanya ingin waspada saya jadi panik dan stress melihat grafik yang melambung tinggi. Begitu juga dengan mengikuti berita kebijakan pemerintah lokal sini yang rasanya tidak ada bijak-bijaknya. Hasilnya saya jadi marah-marah dan stress karena kesal dengan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan saya.

Diagram peraturan selama COVID, diunduh dari website pemerintah Belanda. Merujuk hanya kepada sumber resmi, meskipun sering frustasi juga dengan kebijakan yang dibuat pemerintah yang tidak semua sreg di hati.

Setelah beberapa lama saya memutuskan untuk berhenti memburu informasi soal Covid. Berbekal pengetahuan yang cukup tentang apa yang perlu saya lakukan untuk menjaga diri dan keluarga, saya memfokuskan perhatian saya pada kesehatan dan kegiatan yang bisa dilakukan di dalam keterbatasan pandemi ini – dibanding melulu fokus pada layar kaca.

Unfollow and hide

Sebagai emak-emak yang banyak memakai sosial media, kita pun perlu tegas menentukan apakah sharing dari teman-teman kita berguna atau tidak. Kalau ada teman yang postingannya tidak bermanfaat, banyak hoax dan hanya membuat kita emosi, jangan ragu untuk unfollow atau hide.

Kadang kita ragu karena takut merusak tali silaturahmi, atau jangan-jangan suatu saat kita membutuhkan dia dalam networking kita. Tapi kalau sudah 10 tahun tidak pernah bertemu muka dan bahkan tidak pernah bertegur sapa di sosial media, ya sudah jangan terlalu merasa sungkan untuk meng-hide mereka. Kalau nanti ada jodohnya, pasti ada jalan kembali untuk menyapa mereka.

Uninstall and leave

Sudah unfollow tapi tetap gampang emosi kalau baca timeline? Uninstall aplikasinya, atau leave. Tutup handphone, laptop, televisi, dan ambil buku yang baik. Fokus pada apa yang bisa kita lakukan dibanding terpaku pada ketegangan yang sedang terjadi.

Membaca menyeluruh itu penting

Saya percaya bahwa pada akhirnya, yang terpenting dalam menyaring informasi adalah kemampuan dan kebiasaan kita untuk membaca. Jangan pernah puas dengan sepotong kecil kue yang kita dapat. Kalau kita menemukan kutipan yang bagus, cari di mana sumbernya. Cari siapa penulisnya. Cari buku apa saja yang dia tulis, dan baca bukunya. Jangan berhenti pada quote yang menarik saja. Kalau kutipannya saja sudah sangat menginspirasi, pastilah masih banyak point penting lainnya yang bisa kita gali kalau kita membaca seluruh bukunya, bukan?

Mempertanggungjawabkan sebuah pendapat

Di salah satu pertemuan lewat dunia maya saya sempat mengikuti beberapa kelas dengan materi yang ternyata kontroversial. Kok rasanya omongan bapak ini ada benarnya, tapi juga ada salahnya ya. Tapi kalau didengar-dengar ya benar juga. Tapi kalau dibandingkan dengan yang saya pelajari selama ini ya salah juga.

Ketika kebanyakan orang mengangguk-angguk terpesona dengan ide si bapak yang revolusioner, saya bertanya buku apa yang dijadikan acuan dalam presentasi si bapak ini. Si bapak pun mengirim pesan pribadi kepada saya dan para panitia juga menjawab pertanyaan saya dengan list buku yang pernah direkomendasikan si bapak di session pertama yang yang terlewat oleh saya.

Beberapa minggu saya habiskan untuk membaca buku yang si bapak rekomendasikan, sambil juga mencari informasi tentang penulis buku yang lain yang juga disarankan untuk dibaca. Banyak review mengatakan bahwa buku-buku ini baik, tapi juga banyak review yang menyatakan bahwa penulis ini tidak bisa dipercaya.

Satu hal saya sadar, saya tidak bisa mendebat si bapak apakah teorinya benar atau tidak kalau saya belum lebih banyak paham tentang cara berpikirnya. Dan saya bisa mencari tahu tentang cara berpikir si bapak kalau saya membaca buku-buku yang menjadi landasan pemikirannya.

Sekelumit review, artikel ataupun video Youtube tentang penulis tersebut tidak bisa dijadikan landasan untuk memberikan penilaian karena kebetulan topik ini adalah topik yang sangat penting dan mendasar. Meskipun review jelek tentang penulis ini bisa dijadikan warning, tapi saya tetap butuh memahami lebih dalam (meskipun mungkin tidak bisa sepenuhnya) untuk bisa memutuskan apakah saya harus meneruskan kelas ini atau tidak.

Paham sebelum menyiarkan

Adalah tanggung jawab kita bersama sebagai kaum yang berliterasi, bukan hanya bijak menyaring informasi tapi juga untuk bertanggung jawab akan apa yang kita siarkan. Mari kita biasakan untuk banyak membaca, menganalisa dan memahami sebuah informasi secara menyeluruh sebelum kita menyiarkannya.

Yuk kita isi hari kita dengan informasi yang bermanfaat, dan juga meneruskan informasi yang bertanggungjawab. Salam semangat ya semua ibu KLIP tercinta :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *