Hidup Ini Adalah Kesempatan

Tidak terasa waktu sudah membawa kita ke bulan November. Tahun 2021 sudah hampir berakhir. Dan di bulan ini saya juga bertambah usia. Empat puluh tiga tahun – empat puluh tiga tahun penuh dengan strong evidence kalau penyertaan Tuhan ada dan selalu ada.

Ada banyak hal yang terjadi di dalam hidup saya terutama dalam beberapa tahun terakhir. Tapi khususnya tahun 2021 adalah tahun yang istimewa karena di tahun inilah saya memutuskan untuk bangkit. Tulisan hari ini adalah sebuah ucapan syukur, karena tahun ini saya belajar banyak hal dan mengatasi banyak hal.

Tulisan ini juga ditulis sebagai jawaban atas Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan November 2021 yang bertema Pelajaran Hidup Tahun 2021.

Waktu kita tidak tak terbatas

Pandemi Corona menggoreskan berbagai cerita bagi begitu banyak keluarga. Ada yang sempat sakit, kehilangan pekerjaan, harus mengalami perubahan situasi pendidikan dan pekerjaan, bahkan kehilangan anggota keluarga karena Corona.

Ada begitu banyak nama tertulis di dalam berita duka yang dikabarkan orang melalui sosial media. Anggota keluarga, sahabat, kenalan, temannya teman, rekan kerja… Belum pernah saya mendengar begitu banyak berita duka datang secara sekaligus.

Some winters are the last winters for someone. So long my dear friend. I owe you to living this life dilligently on your behalf.

Di pertengahan tahun ini juga, saya kehilangan seorang teman baik. Kepulangan teman saya ini membuat saya semakin menyadari, hidup ini singkat. Waktu yang Tuhan berikan kepada kita tidak tak terbatas. Dan kita tidak pernah tahu dan tidak pernah mengatur, kapan dan bagaimana waktu kita ini berakhir.

Yet not I but through Christ in me

Seperti tujuh miliar penduduk muka bumi lainnya, keluarga kami pun mengalami banyak tantangan selama periode Corona ini. Saya dan anak-anak sempat terpisah dari Pak Suami ketika beliau bekerja di Perancis selama setahun lebih.

Sempat juga ada sebuah periode di mana dua dari anggota keluarga kami harus menjalani operasi selama periode lockdown di Belanda. Yang biasanya kami bisa mendatangkan bantuan keluarga dari Indonesia di masa-masa yang sulit, kali kemarin menjadi tidak mungkin. Kami menghadapinya berempat saja – terkadang bertiga kalau Paksu sedang di luar Belanda.

Fakta bahwa virus begitu cepat menyebar dan kondisi Eropa yang kritis di tahun 2020 membuat kami sangat berhati-hati bahkan untuk menerima bantuan orang lain sekalipun. Saya melakukan berbagai cara untuk menyiasati keadaan. Salah satunya menumpuk makanan sampai saya tidak perlu memasak selama beberapa bulan.

Entah bagaimana kami survived saat itu. Satu hal yang saya pegang erat di dalam masa-masa yang kelam: kami tidak sendirian. Tuhanlah kekuatan dan harapan kami sekeluarga.

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

1 Korintus 15:10 (TB) 

Berkarya sebagai bentuk ucapan syukur

Setelah melalui masalah yang bertubi-tubi, di akhir tahun 2020 saya memutuskan untuk mulai berkarya dan berhenti kuatir akan hari esok. Tuhan sudah melimpahi keluarga kami dengan begitu banyak berkat, ini saatnya untuk bekerja. Untuk mengembangkan diri, untuk berkarya.

Sebelumnya hidup masih lebih banyak berkisar tentang bagaimana kami survive. Rasanya tidak ada kesempatan untuk berpikir tentang menulis, tentang belajar hal baru, tentang membuka diri untuk bergabung di komunitas. Saya merasa kondisi kami belum cukup ideal untuk melakukan hal-hal yang sifatnya ‘ekstra’. Semua orang sehat, suami punya pekerjaan, anak-anak bisa ke sekolah, kami punya makanan untuk hari ini – semua itu cukuplah.

Tetapi saya sadar, waktu yang diberikan buat Tuhan bukan untuk sekedar survive belaka. Saya bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup, masih diberikan kesempatan untuk sehat. Saya ingin memakai waktu dengan baik dan berguna bagi kemuliaan Tuhan, bagi kebaikan orang lain – sebagai ucapan syukur untuk kasih karunia dari-Nya.

Jangan menunggu

Saya memutuskan untuk berhenti menunggu masalah selesai, berhenti menunggu tidak akan ada kesulitan lagi. Berhenti menunggu momen yang ideal datang untuk memulai sesuatu.

Akhir tahun lalu, saya bergabung di komunitas Membaca Alkitab setiap hari. Sesuatu yang sudah lama ingin saya lakukan, tapi selalu terhalang ketakutan jangan-jangan saya tidak akan bisa berkomitmen dengan banyaknya persoalan di rumah. Ah sudahlah, pikir saya waktu itu. I don’t know about tomorrow, but let’s just do today.

I don’t know about tomorrow, but let’s just do today.

dip

Saya juga mencari les piano untuk diri saya sendiri. Selama ini saya mencoba belajar piano secara mandiri. Setelah si sulung masuk sekolah musik di kota kami, saya memutuskan untuk ikut les juga supaya cita-cita bisa bermain musik bisa kesampaian.

Berani membayar harga dan mengambil resiko 

Tentu saja ada harga yang harus dibayar ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu. Untuk les piano si sulung dan saya, harga yang dibayar jelas di dalam bentuk uang/materi. Kondisi kami saat itu bukanlah mudah, kami membayar uang sewa dua rumah, satu di Belanda dan satu di Perancis, di dua kota yang terkenal mahal biaya kehidupannya di Eropa.

Tapi melihat si sulung menjadi lebih tenang dan fokus, melihat dia senang menemukan passionnya membuat saya bahagia. Melihat dia mendapat kesempatan ikut bermain di pertunjukkan akhir tahun di sekolah musiknya membuat saya bersyukur dan merasa segala kesulitan dan kerepotan mengantar dia les itu rasanya terbayar semua.

Anak yang tidak bisa diam ini dan tidak pernah ketahuan apa minat dan bakatnya, mengambil lagu yang sedang dipelajari Mamanya dan memainkannya dengan jauh lebih baik dari sang Mama. Terimakasih Tuhan untuk semua perkembangan anakku.

Selama hampir setahun saya les piano, saya pun bahagia karena akhirnya keinginan saya bisa bermain piano mulai terlihat bentuknya. Bermain lagu-lagu klasik, Beethoven, Mozart – meskipun masih level sederhana sudah bisa saya lakukan sekarang.

Setiap kegiatan membutuhkan dana, tenaga, waktu, dan komitmen. Saya belajar bahwa berani membayar harga dan mengambil resiko itu memberi buah yang manis. Saya bisa menyaksikan kemajuan anak-anak dan juga kemajuan diri sendiri.

Keluar rumah

Di awal tahun 2021, saya melanjutkan petualangan saya dalam belajar dengan cara ‘keluar rumah’. Saya bergabung dengan beberapa komunitas menulis seperti KLIP dan MGN. Juga dengan beberapa komunitas belajar Alkitab. Juga saya memutuskan untuk mulai bekerja di sekolah sebagai ibu pengawas anak-anak di jam makan siang.

Bertemu dengan orang-orang baru dan berkomunikasi dengan mereka memberikan banyak warna baru di dalam hidup saya. Melalui pergaulan yang positif dengan teman dan rekan, saya mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan yang baru.

Hal-hal yang lama tidak dipikirkan menjadi muncul kembali. Hal-hal yang tidak terpikirkan menjadi wacana baru untuk dipelajari. Hal-hal yang sudah lama dicari tapi tidak pernah ketemu jawabannya, menjadi terbuka melalui obrolan dengan mereka.

Ikutlah ujian bila ingin menemukan kemampuanmu

Salah satu yang sudah lama saya cari tapi tidak ketemu jawabannya adalah di mana tempat les Bahasa Belanda yang murah. Sudah lama saya mendengar informasi bahwa ada sekolah bahasa yang hanya kira-kira 100 Euro biayanya per-tahun. Sekolah ini disubsidi oleh pemerintah, tidak sama dengan les lainnya yang bisa mencapai 400 Euro per tiga bulannya.

Pencarian dengan bantuan Oom Google tidak membuahkan hasil, bahkan membuka website yang saya dapatkan alamatnya dari brosur resmi dari pemerintah pun tidak berbuah. Alih-alih hampir gratis, sang petugas yang menelepon saya menjelaskan bahwa sekolah bahasa mereka hampir 2000 Euro biayanya. Ya sudahlah, saya pikir, mungkin memang bukan jodoh saya.

Ketika saya mulai bekerja di sekolah, salah satu ibu yang menjadi rekan kerja saya ternyata sudah bersekolah di sekolah yang saya cari ini. Lewat dia saya mendapatkan link yang langsung memberi informasi yang saya tuju. “Coba daftar saja,” kata teman saya ini. “Waiting list-nya biasanya lama sekali. Bisa menunggu sampai setahun untuk mendapatkan kelasnya.”

Akhirnya saya pun mendaftar dan ternyata tanpa menunggu lama, saya dipanggil untuk mengikuti placement test – untuk mengetahui level Bahasa Belanda sekarang ini dan kelas mana yang cocok dengan saya.

Selama ini saya sangat percaya bahwa saya tidak bisa berbahasa Belanda. Kalaupun bisa dilevel-kan pasti masih ada di level pemula. Karena bagi saya, membuat satu kalimat lengkap di dalam menulis atau bercakap-cakap itu aduhai susahnya. Memang saya pernah ikut les Bahasa Belanda 11 tahun yang lalu, tapi itu pun level pemula dan setelah itu saya masih belum bisa berkomunikasi dengan lancar menggunakan Bahasa Belanda.

Di hari tes diadakan, saya pun mengerjakan soal-soal dengan agak deg-degan. Saya diberikan level yang sulit karena dianggap sudah pernah les sebelumnya. Setelah tes selesai, saya harus mengikuti wawancara. Anehnya memang, entah bagaimana ceritanya, saya merasakan sendiri seperti ada tombol yang diputar di otak saya ketika tes itu dimulai. Tiba-tiba semua bacaan, pertanyaan, tulisan dan semuanya menjadi sesuatu yang bisa saya lakukan!

Terheran-heran si pewawancara bertanya, “Kamu yakin kamu nggak pernah les sebelumnya? Hasil tes kamu bagus sekali! Berdasarkan tes ini kamu bisa masuk ke kelas Advanced.” Oh really??? Saya pun sakit perut mendengarkan keputusannya. Karena sesungguhnya, saya benar-benar merasa belum bisa berbahasa Belanda! Jangankan kelas Advanced, saya selalu berpikir ke kelas Intermediate pun saya belum pantas pergi.

Berkali-kali ikut ‘ujian’ membuat saya sadar, saya ternyata punya versi lain dari diri sendiri yang saya kenal selama ini.

Tapi begitulah ternyata, bila ingin tahu berapa kapasitas kita, kita perlu “keluar” dan ikut ujian. Mengikuti tantangan di komunitas menulis seperti Tantangan Bulanan MGN juga membuka mata saya kalau saya ini bisa menulis. Seumur-umur saya percaya bahwa tulisan saya belum pantas dibaca oleh orang lain, eh ternyata saya dipercaya teman-teman untuk menjadi juara di beberapa tantangan.

Pergilah keluar dan ikutilah ujian, bila ingin menemukan pontensi diri yang belum kamu tahu.

DIP

Hari ini adalah kesempatan, gunakanlah

Semua hal ini adalah pengetahuan baru tentang diri saya sendiri. Saya bersyukur untuk semua pelajaran hidup selama tahun 2021 ini. Saya bersyukur untuk anugerah kesehatan dan juga kesempatan hidup yang Tuhan berikan. Saya juga bersyukur segala potensi dan kesempatan untuk menemukannya sepanjang tahun ini.

Fakta kalau saya ternyata bisa menulis dan juga (agak) bisa berbahasa Belanda mengejutkan saya, tetapi juga membuat saya tergerak untuk menggunakan kemampuan ini sebaik-baiknya. Semua keahlian, semua pelajaran, harus dilatih dan dikembangkan setiap hari dan digunakan untuk hal-hal yang berguna.

Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini adalah sementara. Berhenti menunggu waktu yang tepat untuk mulai, gunakan talenta dan kesempatan yang Tuhan berikan di dalam hidup kita. Untuk kebaikan sesama, dan untuk kemuliaan Nama-Nya. Amin.

19 Thoughts on “Hidup Ini Adalah Kesempatan

  1. Senangnya MGN jadi bagian positif di tahun teh Dea. Menyenangkan sekali ya menemukan power keluar dari ‘cangkang’, hihi. Karena kira2 waktu aku mulai blogging lagi juga merasakan hal yang mirip begitu teh

    1. Hehe.. iya teh Andina. Percaya atau tidak, karena sifat minder-an aku, aku sebenarnya sungkan dan ragu bergaul dengan keluaran kampus gajah (padahal suami juga papah gajah) hahaha… terlalu lama nggak bergaul jadi gitu. tapi pas masuk MGN langsung merasa cair, jauh lebih cair daripada di wag jurusan *heart*

  2. Pergilah keluar dan ikutilah ujian, bila ingin menemukan pontensi diri yang belum kamu tahu. Ini super banget Dea, aku juga suka minder dan ga percaya diri, tapi betul kata Dea kita harus berani keluar.

    Tahun 2021 ini juga bisa dibilang tahunku membuka diri hehe, semoga kita terus semangat di tahun depan ya, terus berkarya.

  3. Wah Dea, tuliaannya baguss. Betul-betul level mastah. Ehehe.

    Rasa syukur adalah hal utama yang harus kita tanamkan sebagai makhlukNya. Dan menggunakan karuniaNya untuk terus berkarya. Keren sekali Dea. 🙂

    “Saya bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup, masih diberikan kesempatan untuk sehat. Saya ingin memakai waktu dengan baik dan berguna bagi kemuliaan Tuhan, bagi kebaikan orang lain – sebagai ucapan syukur untuk kasih karunia dari-Nya.” ….Terpaksa saya tidak menggunakan kalimat efektif atas quote ini: SANGAT SUPER SETUJU SEKALI. Ehehe. 🙂

    Semoga makin sukses ya Dea. Dan makin mahir berbahasa Belanda-nya.

    1. Aduh, aku malu deh dibilang mastah.. beneran belum ada apa-apanya lah Uril. Ini mah curcol semata hehe.
      Makasih ya Uril udah mampir, dan semakin semangat menulis juga buat Uril 🙂

    1. Makasih teteh… ini semua kebaikan dan anugerah Tuhan semata. Si sulung ini udah mengalami banyak persoalan, harus diterapi dan lain-lain. Puji Tuhan kami ketemu minatnya di mana dan dia juga bisa enjoy sama hobinya. Semangat juga ya Teh!

  4. Gunakan kesempatan yang ada, jangan pernah menunggu, dan lakukanlah. Tak lupa iringi rasa syukur dan selalu ingat kepada Tuhan. Begini kira-kira pesan yang saya dapat dari tulisan Teh Dea. Penuh makna sekali teh tulisannya. Terus menulis ya, teh!

    Oiya, semangat terus juga belajar Bahasa Belandanya teh. Dulu saya setaun disana paling banter hanya bisa bilang Alsjeblieft sama mbak-mbak kasir Jumbo. 😄😄😄.

    1. Hehehe iya teh Riska.. just do it, kalau kata iklan Nike 😀

      Hahaha.. aku juga sama kayak gitu bertahun2 cuma bisa bilang aslejblieft sambil berharap dia nggak melanjutkan percakapan yang nggak akan bisa aku jawab hahahaha. .

      Makasih ya sudah mampir dan makasih semua apresiasinya 🙂

  5. Maaf baru sempat mampir Kak dea.

    suka sekali sama blog kak dea, nyaman di mata. melengkapi keistimewaan tulisannya yang menghangatkan hati.

    semangat selalu kak dea, peluk dari jauh..semoga kak dea semakin tangguh dan bisa menaklukan semua tantangan dengan bahagia.

  6. Berkarya sebagai bentuk rasa syukur. Ini yang bikin aku rada tertohok. Bersyukur tidak cukup sekedar ucapan Alhamdulillah di bibir. Tapi diwujudkan dalam bentuk karya. Makasih diingatkan De.

  7. Efek bola salju itu nyata. Ketika kita mulai membuka diri untuk mencoba belajar sesuatu, disitulah ternyata ada banyak hal lain yang menyusul minta ikut dipelajari.

    Tapi… jangan lupa bahagia dan tentu bersyukur dikasih kesempatan belajar, berkarya dan berbagi.

    Just do it (pinjem iklan Nike) hehehe…

  8. Awal pandemi kebayang ya teh rasa takut dan khawatirnya apalagi di negeri orang tanpa sanak saudara. Saya bayanginnya kayak acara Doomsday Preppers. Syukur masa itu sudah terlewati ya teh. Baru ngeuh ya teh ternyata untuk berkarya tidak perlu menunggu keadaan menjadi baik bahkan menunggu waktu luang. Trimakasih teh tulisannya jadi pelajaran buat saya.

    1. Hallo teh Nanda.. iya teh, mana waktu itu kan Eropa duluan ya yang parah banget… kita tiap hari gemes sama peraturan pemerintah yang kayaknya kurang sigap dibanding negara2 tetangga, padahal di Italia udah ngenes banget kondisinya. Puji Tuhan akhirnya udah lewat, padahal di masa itu malah banyak kejadian. Makanya jadi kepikiran, udahlah nungguin apa sih kalau nggak sekarang start berkarya kapan lagi…

      Makasih juga udah mampir teh, kita semua sama-sama belajar dari tantangan bulan ini ya…

Leave a Reply to Nurul Nanda Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *