Dua (atau Tiga) Hal yang Perlu Diingat bila Malas Melanda

Sore ini saya malassssss sekali. Super super malas sekali. Well, bukan malas sih sebenarnya, tapi lelah. Ceritanya anak-anak mulai hari ini libur sekolah selama dua minggu – meivakantie alias libur bulan Mei. Ya namanya ada anak-anak di rumah, semuanya terasa lebih repot lah ya.

Sepanjang hari saya sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah sambil mengkomando anak-anak untuk segala kegiatannya. Soalnya bukan apa-apa, kalau dilepas begitu saja, mereka ya maunya pasti main game saja seharian. Kalau disuruh ini itu, kalau emaknya kurang memperhatikan ya mereka kurang motivasi juga.

Ya begitulah jadi ibu. Akhirnya ketika sore datang dan saya sudah harus mulai berpikir harus masak apa malam ini, rasa lelah yang sejak pagi sudah mulai ditumpuk pun berubah menjadi rasa malas. Saya malas masaaaaaak! Saya nggak mau masak!

But again, membeli makanan itu bukan urusan gampang di sini. Bukan soal harga yang malezin, tapi pilihan menunya (yang anak-anak mau makan) pun sangat sangat terbatas. Akhirnya saya pun setelah sejam lebih merenung harus melakukan apa, memaksakan diri untuk pergi ke supermarket karena beras habis 😅. Kalau mau makan, bukan hanya harus masak, harus beli beras dulu.

Dan di jalan, saya berpikir, di dalam hidup ini ada dua (atau tiga hal) yang perlu diingat bila rasa malas melanda:

Konsekuensi

Di dalam hidup ini, selalu ada yang namanya konsekuensi yang harus kita hadapi bila kita melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan, atau tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Ketika kita mencuri, ada konsekuensinya. Ketika kita tidak masak, ada konsekuensinya.

Entah konsekuensi itu datang seketika, atau pelan-pelan menumpuk lalu baru terasa di kemudian hari, konsekuensi itu ada dan pasti akan selalu terasa. Tidak bisa kita tolak, tidak bisa kita hindari, dan harus dihadapi.

Kalau hari ini saya tidak masak, konsekuensi yang harus saya hadapi adalah tidak ada makanan untuk keluarga. Konsekuensi lain adalah saya harus keluar uang cukup besar untuk membeli makanan dari luar. Dan kalau rasa malas ini datang tiap malam, konsekuensinya saya bokek! Hehehe.

Konsekuensi lain adalah makanan yang dibeli di luar (terutama kalau menunya McD lagi McD lagi) itu nggak sehat. Sekali-sekali ya gpp, tapi kalau sering, anak-anak tidak bisa bertumbuh dengan baik karena kurang asupan yang menyehatkan. Dan saya dan suami pun bisa-bisa semakin menggelembung.

Tujuan

Setiap hal yang kita lakukan di dalam hidup ini, sebenarnya harusnya dilakukan dengan tujuan tertentu. Bahkan ketika kita seperti tidak punya tujuan di dalam melakukannya, pasti kalau ditelusuri ada harapan yang ingin kita capai setelahnya.

Sejatinya, setiap kita sedang malas, kita selalu balik lagi ke ‘strong why‘. Kenapa saya melakukan ini? Apa tujuan saya ketika mengawali hal ini? Tapi ya namanya kita manusia, kadang lebih efektif untuk terlebih dahulu sadar bahwa ada konsekuensi yang bisa menimpa kalau kita tidak melakukan sesuatu (yang baik), baru kemudian ingat dengan tujuan awal kita.

Tujuan saya sejak awal menjadi ibu ya mengurus keluarga dengan sebaik-baiknya – termasuk di dalamnya menyediakan makanan. Bersama suami yang bertugas berjibaku dengan pekerjaan kantornya, saya bertanggung jawab dengan urusan dapur. Tujuan saya adalah menyediakan makanan yang bergizi supaya seluruh keluarga bisa tetap sehat.

Tujuan saya yang lain adalah mengelola keuangan dengan bijaksana. Terutama dengan dimulainya kesulitan perekonomian di Eropa sejak awal tahun ini, saya perlu lebih ketat lagi mengatur uang, jangan sampai terlalui banyak pengeluaran yang sebenarnya tidak berguna.

Bonus: additional reward

Di samping kedua hal di atas, ada yang namanya bonus yang kita bisa ingat ketika kita sedang kurang termotivasi untuk bekerja. Ketika kita mengerjakan hal yang baik, selain kita bisa mencapai tujuan dan juga menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan, kita juga bisa mendapat sesuatu yang sifatnya bonus yaitu reward yang kadang datangnya tidak diduga.

Setelah satu jam lebih berusaha mengumpulkan semangat yang tercecer, akhirnya saya pun berangkat ke supermarket. Tujuan saya sebenarnya hanya membeli beras saja, dan mungkin satu kotak susu.

Dengan super enggan saya masuk ke dalam mobil, sambil mengingat daftar belanjaan yang diperlukan. Di komplek pertokoan, saya ingat pesan suami untuk mencarikan sesuatu di supermarket yang lain. Menarik nafas panjang, saya pun masuk ke supermarket pertama. Tujuan pertama: beras.

Biasanya saya membeli beras di Toko Asia, setiap beli sekaligus satu karung besar yang 20 kilogram beratnya. Tpai kali ini beras habis dan kami belum sempat pergi ke Toko di kota sebelah. Ya sudahlah, gpp beli dulu di supermarket Belanda, biasanya ada kok beras melati kemasan 1 kg.

Eh, waktu saya sedang mencari sang beras, saya melihat ada beras lain dengan kemasan 4.5 kilogram, hanya 4,5 Euro sahaja. Jadi cuma 1 Euro per kilonya. Wow, kok murah ya! Ini beras beneran apa beras plastik nih? Pikir saya curiga haha. Biasanya 1 kilogram beras itu harganya sekitar 2 Euro. Bahkan kalau kita beli langsung satu karung sekalipun tidak bisa semurah itu!

Meskipun curiga, selayaknya emak-emak yang pantang melewatkan kesempatan menghemat, saya pun mengambil kantong beras itu. Sambil meringis membayangkan beratnya tas yang harus dibawa ke mobil, saya berangkat ke kassa dengan hati agak bahagia.

Teringat pesan suami, saya pun pindah ke supermarket kedua dengan hati agak ringan. Karena hari ini adalah hari Senin, hari berganti barang-barang yang di-korting, saya pun mengambil beberapa barang. Termasuk tomat yang di supermarket sebelumnya dihargai lebih dari 3 Euro satu kilonya, di supermaket kedua ini hanya 2,5 Euro saja karena sedang ada ACTIE. Total uang yang saya hemat karena membeli barang-barang yang sedang di-korting adalah 14 Euro!

Berbunga-bunga, saya pun pulang ke rumah. Bukan hanya mendapatkan beras yang surprisingly murah, saya merasa mengantongi uang minimal 14 Euro dapat mungut di jalan hihihi. Malam itu kami makan seperti biasa, dengan tambahan timun dan tomat segar yang dipotong-potong dan disantap dengan saus kacang. Yummy! Sungguh bonus untuk menutup hari yang melelahkan.

Contoh soal

Tiga hal ini mestinya sih berlaku bagi hampir semua hal ya. Kita coba di beberapa contoh soal ya!

POV: Lagi malas menulis untuk setoran harian di komunitas menulis.
Konsekuensi: Nggak dapat badge emas (untuk pengejar badge emas), atau nggak dapat badge, atau gugur dari kelas.
Tujuan awal: Konsisten menulis setiap hari.
Bonus reward: Tadinya sih cuma mau maksain konsisten menulis, eh tahu-tahu berhasil membuat tulisan yang lumayan bagus isinya.

POV: Malas jalan keluar (olahraga).
Konsekuensi: Badan makin berat, penyakit makin mengancam. Suatu saat pasti akan terasa bahwa kesehatan menurun.
Tujuan awal: Badan sehat dengan berolahraga, emosi stabil, hormon terjaga.
Bonus reward: Siapa tahu ketemu bunga atau serangga yang unik, ketemu rute baru yang bagus, atau ketemu Hyun Bin lagi lari pagi. LOL

POV: Malas berdebat untuk menyuruh anak-anak menjemur pakaian.
Konsekuensi: Bisa-bisa mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak terampil melakukan pekerjaan rumah (seperti emaknya).
Tujuan awal: Mendidik anak tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri.
Bonus reward: Pekerjaan saya jadi agak ringan karena tidak perlu jemur baju hari itu.

Penutup

Lelah itu biasa, malas itu manusiawi dan dialami oleh semua orang. Tapi kalau rasanya kita sedang super malas dan nggak punya motivasi, ingat saja dua (atau tiga hal) di atas: konsekuensi yang bisa datang, tujuan mula-mula, dan reward yang tidak terduga, yang datang sebagai bonus atas usaha kita.

Semoga curcol nggak penting ini berguna ya buat teman-teman yang lagi iseng main ke sini dan membacanya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *